Tentang RMBC

SEJARAH CAMPALAGIAN


SEJARAH PERGURUAN ISLAM CAMPALAGIAN

Yang mana mereka senangi pembahasannya. Lokasi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar adalah di rumah masing-masing ulama tersebut di atas.

Pesantren yang terdiri dari tiga pondok tersebut bukanlah berarti bahwa Perguruan Islam dipecah menjadi tiga bagian, melainkan tetap satu. Ketika itu Kiyai Haji Maddappungan masih hidup, menjadi konsultan para ulama jika suatu saat menemukan masalah-masalah agama yang ruet. Santri masih saja tetap membanjiri Perguruan ini hingga wafatnya Kiyai Haji Maddappungan pada tahun 1954.

Tahun 1958 adalah masa berkabung bagi santri yang membanjiri Perguruan Islam. Tetapi para santri tersebut tidaklah berputus asa dalam perantauannya untuk menerima ilmu-ilmu agama Islam dari Kiyai Haji Maddappungan. Hal ini disebabkan oleh adanya ulama-ulama para alumni Perguruan ini. Pengajian pondok dan Madrasah Diniyah tetap maju sebagaimana yang telah dipaparkan pada periode sebelumnya.

Perguruan Islam semakin semarak. Hal ini ditandai dengan hadirnya Kiyai Ahmad Zein di tengah-tengah para santri, setelah beliau bertekuk lutut menyinsingkan lengan baju menuntut ilmu-ilmu agama di Belawa. Beliau tersebut adalah putera Kiyai Haji Muhammad Zein dan cucu dari al-Mukarram Kiyai Hajji Maddappungan. Pada saat itu yang menjadi Kepala Kantor Urusan (KUA) Kecamatan Campalagian adalah al-Muhtaram Abd Wahab.

Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Campalagian, Abdul Wahab adalah salah seorang putera kelahiran Kabupaten Mamuju yang menginginkan daerah tempat kerjanya menjadi maju, terutama pendidikan dan pengajaran agama Islam. Beliau agar pondok Pesantren tersebut tidak lagi menggunakan sistem halaqah (melingkar) mengelilingi gurunya, akan tetapi dengan sistem kelasipikasi.

Pengklasipikasian Pesantren tersebut di atas dirintis sejak akhir tahun 1957 hingga tahun 1958. Usaha tersebut tidak disia-siakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Rencana dan doa beliau tercapai dan terkabul sejak 1 Januari 1959.

 BAB  III

TERORGANISIRNYA PERGURUAN ISLAM

CAMPALAGIAN

 

A.    Pesantren Calon Alim Ulama (1959—1963)

Pada hari pertama tahun baru Masehi, 1 Januari 1959 Perguruan Islam menjelma menjadi sebuah Yayasan yaitu bernama Yayasan Perguruan Islam Campalagian. Jauh sebelumnya, Perguruan ini merupakan pendidikan non formal kemudian menjadi informal.

Yayasan Perguruan Islam didirikan secara terorganisir dengan susunan pengurusnya, masing-masing Ketua I Haji Mas’ud Abdau dan Ketua II S. Haji Muhammad Said Hasan. Panitera Umum Abdul Mutim Rukkawali. Panitera I dan II masing-masing Abd Rasyid Abdullah dan Abd Muis Dahlan. Bendahara Haji Mahmud Yamin, dilengkapi dengan Seksi-seksi. Pembantu utama untuk semua seksi dalam kepengurusan Yayasan Perguruan Islam Campalagian adalah Atjo Patjiddai.

Dengan terbentuknya Yayasan Perguruan Islam (YPI) itu sekaligus didirikan sebuah Pesantren dengan nama “PESANTREN CALON ALIM ULAMA” dipimpin oleh Ustadz Ahmad Zein ? A. Wahab ? (Pejabat Kantor Urusan Agama Kecamatan Campalagian) yang dibantu oleh ulama-ulama yang ada di daerah ini sebagai tenaga pengajar, antara lain KH. Muhammad Zein, K.H. Mahmud Ismail, dan al-Muhtaram KH. Najamuddon Tahir putera KH. Muhammad Tahir Imam Lapeo salah seorang penyebar agama Islam di Campalagian.

Pesantren Calon Alim Ulama, tidak lagi menggunakan sistem halaqah (sistem melingkar), tetapi telah secara klasifikasi dengan lokasi berlangsungnya kegiatan mengajar belajar di serambi  belakang (bagian utara, timur, dan selatan) Masjid Raya Campalagian. Tahun pertama berdirinya Pesantren Calon Alim Ulama telah berhasil menampung santri sebanyak 40 (empat puluh) orang santri serta puluhan mustami’, pendengar sertiap berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Mereka tekun mendengar ajaran-ajaran yang disampaikan para ulama dalam setiap saat dan waktu.

Syarat-syarat untuk diterima menjadi santri adalah yang pernah mengikuti pengajian pondok serta minimal tamat baca kitab Ajurumiyah dan hafal atau setidaknya memahami ilmu-ilmu Awamil dan ilmu Sharf. Masalah umur tidak menjadi persyaratan dalam penerimaan santri pada saat itu.

Bidang-bidang studi yang dipelajari dan pengajarnya masing-masing: Ilmu Tafsir dan Hadis dibawakan oleh KH. Najamuddin Thahir, KH. Mahmud Ismail untuk ilmu Tauhid dan Ilmu Fiqhi serta Ilmu Tata Bahasa Arab dibawakan oleh KH. Muhammad Zein. Penceramah umum sebagai tambahan pengetahuan dibawakan oleh Ketua Umum Pimpinan Pesantren Calon Alim Ulama Abdul Wahab Kepala Kantor Urusan Agama kecamatan Campalagian.

Sayang sekali melakukan usaha yang suci murni seperti ini tidak semudah membalik telapak tangan. Pada akhir tahun 1961 Pesantren Calon Alim Ulama yang bagaikan bunga yang sedang tumbuh dengan suburnya, tiba-tiba kehilangan dua orang pembina inti, masing-masing ketua umum Abdul Wahab mendapat tugas baru menjadi Kepala Kantor Urusan Agama dalam wilayah Kabupaten Mamuju dan KH. Najamuddin Thahir mendapat tugas baru sebagai abdi negara pada Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Majene. Dengan demikian jalannya pengajaran tersendat-sendat.

Awal tahun 1961 santri kembali duduk bersila dengan sistem halaqah (melingkar) meninggalkan bangku Pesantren di serambi Masjid Raya menuju pada tiga tempat, masing-masing untuk ilmu Tafsir, Hadis, dan Ilmu Fiqhi dilangsungkan di rumah KH. Mahmud Ismail. Ilmu Tauhid dibawakan oleh KH. Muhammad Zein. Sedangkan Ilmu Nahwu dan Ilmu Sharf dilokasikan di rumah KH. Abdul Rahim, sebab ilmu tersebut diajarkan oleh beliau sendiri.

B.     Pendidikan Guru Agama (PGA) (1963-971)

Pada tanggal 1 Januari 1963 Yayasan Perguruan Islam Campalagian mengadakan rapat dalam rangka memperbarui susunan pengurusnya. Rapat tersebut menelorkan keputusan tentang susunan pengurus Yayasan yang baru. Keputusan tersebut antara lain mengangkat Haji Mahmud Yamin menjadi ketua umum Yayasan Perguruan Islam (YPI). Ketua I dan II masing-masing: Muhammad Said Tahir dan Mansur Rebo merangkap Kepala Pendidikan Guru Agama Pertama (PGAP) 4 tahun. Bendahara adalah S. Haji Muhammad Said Hasan serta dilengkapi dengan seksi-seksi.

Dengan berdirinya Pendidikan Guru Agama (PGA) 4 tahun itu berarti Yayasan Perguruan Islam maju lagi selangkah ke depan. Tenaga guru/pengajar adalah tenaga-tenaga guru pinjaman, honorer yang diberi imbalan jasa ala kadarnya sesuai dengan kemampuan Yayasan. Guru-guru tersebut antara lain: S. Habib Shaleh untuk bidang studi al-Qur’an, Hadis, dan Bahasa Arab. Sedangkan Ilmu Fiqhi dan Ilmu Tauhid masing-masing dibawakan oleh Mansur Rebo dan Abd Ghani. Ilmu Pengetahuan umum, seperti Al-Jabar, Ilmu Ukur, ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Bahasa Inggeris dibawakan oleh masing-masing Muhammad Iskandar, Muhammad Teyyeb dan Abd hakim. PGA 4 tahun dipimpin oleh Mansur Rebo selama 2 (dua) tahun, yakni sejak 1 Januari 1963-1 Oktober 1964.

Mansur Rebo mendapat tugas belajar dan menlanjutkan pelajarannya pada Fakultas Tarbiyah IAIN “Alauddin” Ujung Pandang dan diganti oleh Mansur Hasan, guru agama Islam yang diperbantukan Departemen Agama pada Perguruan Islam Campalagian.

Mansur Hasan yang menggantikan Mansur Rebo itu menjabat pimpinan PGA 4 tahun sejak tahun 1964-1968. Selama PGA dipimpin oleh Mansur Hasan, Yayasan Perguruan Islam berhasil menamatkan sebanayk 2 (dua) kali, yakni tahun ajaran 1967 dan tahun ajaran 1968 dengan jumlah siswa yang ditamatkan dengan mengikutkan ujian Negara rata-rata 25 orang setiap tahunnya.

Kemajuan-kemajuan yang dicapai selama dibawah asuhan Mansur Hasan sangat menggembirakan. Siswa baru yang diterima sebagai pendaftar baru setiap tahunnya rata-rata 40 orang. Dan pada saat itu beberapa orang pelajar PGA 4 tahun diikutkan Ujian Guru Agama (UGA) tahun 1967 dengan hasil yang memuaskan 100 % lulus.

Melihat kemajuan yang sangat pesat itu, yakni adanya murid melimpah, dan adanya bantuan uluran tangan pemerintah memberikan tenaga-tenaga pengajar, guru-guru Agama Islam negeri, maka dibangunlah sebuah gedung menggantikan gedung bangunan KH. Muhammadiyah pada tahun 1938 yang sudah nyaris roboh.

Gedung tersebut terdiri dari 7 lokal dengan ukuran 7 X 8 meter di atas tanah wakaf dari KH. Abd Hamid seluas kira-kira 60 X 50 terletak antara Jalan Ulama dengan Jalan KH. Abd Hami menghadap selatan, Jalan Ammana Ma’jju. Hanya saja sungguh disayangkan gedung tersebut hancur luluh sebelum dimanfaatkan akibat bencana alam, gempa bumi yang melanda daerah Campalagian pada tanggal 11 Juli 1967.

Pada tanggal 1 Juni 1968 Mansur Hasan mendapat tugas belajar dan melanjutkan pelajarannya pada Fakultas Tarbiyah IAIN “Alauddin” Ujung Pandang. Beliau diganti oleh Abd Rasyid Abdullah yang diangkat oleh Yayasan Perguruan Islam Campalagian. Di bawah kepemimpinan Abd Rasyid Abdullah, Yayasan Perguruan Islam maju lagi selangkah ke depan dengan menambah pendidikan dan pengajaran dari PGA 4 tahun menjadi PGA 6 tahun serta menamatkan siswanya pada akhir tahun ajaran 1970.

PGA 4 tahun/6 tahun dalam setiap tahunnya menamatkan siswa rata-rata 20 orang. Dalam menjalankan tugas sehari-hari, Abd Rasyid Abdullah dibantu beberapa orang guru tetap, guru Agama yang diangkat pemerintah dan ditempatkan pada Yayasan Perguruan Islam, antara lain: Muslimin Ismail, M. Ilyas Ghani, dan Kahar Masbi.

Pada pertengahan tahun 1969, Pengurus Yayasan Perguruan Islam berhasil membangun sebuah gedung di atas fondasi yang pernah dirintis beberapa saat yang lalu dengan ukuran yang sama, yaitu 49 X 8 meter. Pada akhir tahun ajaran 1970, Abd Rasyid Abdullah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala PGA 4 Tahun/6 Tahun dan hanya memangku jabatan Sekretaris Yayasan Perguruan Islam (YPI) saja.

Setelah Abd Rasyid Abdullah mengundurkan diri dari jabatannya secara hormat dan menjabat sebagai sekretaris Yayasan Perguruan Islam saja, maka pihak Pengurus Yayasan Perguruan Islam menetapkan Muslimin Ismail menjadi pimpinan PGA 4 Tahun. Muslimin Ismail adalah guru agama Islam negeri yang ditugaskan pemerintah, membantu perguruan swasta demi peningkatan pendidikan Agama. Selama PGA Yayasan Perguruan Islam Campalagian ini diasuh oleh Muslimin Ismail nampak adanya kemajuan, baik bidang penerimaan murid setiap tahunnya maupun hasil yang dicapai pada Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EBTA).

Masa gemilang dalam periode ini baru saja di ambang pintu tiba-tiba pudar kembali bagaikan lampu kehabisan minyak, sebab pada saat itu tepatnya dalam tahun ajaran 1971/1972 tenaga pengajar sangat minim. Pintu penerimaan siswa untuk kelas V dan kelas VI ditutup. Siswa baru yang diterima hanyalah kelas I, II, III, dan IV. Selama 2 tahun lebih PGA 4 Tahun dipimpin oleh Muslimin Ismail, siswa yang berhasil ditamatkan dengan predikat Extranei, rata-rata 25 orang pertahun.

C.    Periode 1972—1979

Wajah Perguruan Islam dalam periode ini nampak cerah kembali dibandingkan dengan periode sebelumnya. Hal ini nampak adanya tambahan guru negeri pada tanggal 1 Pebruari 1972. Guru tersebut adalah Abd Djawad Kasim. Pada tanggal 1 September 1972 PGA 6 Tahun mendapat lagi tambahan guru, antara lain: St. Maryam Saleh, Abd Rasyid Atjo, dan Dumair Kasim. sehingga jalannya pendidikan dan pengajaran bertambah maju. Ini dikarenakan adanya tambahan guru honorer yang diangkat sendiri Yayasan Perguruan Islam. Pada saat itu guru agama Islam negeri yang mengabdi pada Yayasan Perguruan Islam, antara lain: Muslimin Ismail, (Kepala Sekolah) dengan guru bantu masing-masing: M. Ilyas Ghani, Tappaiyya K, Nurdin Atjo, Abd Rasyid Atjo, dan Abdullah Hafid. Sedangkan guru-guru honorer yang diberikan imbalan jasa alakadarnya, antara lain; Lahmuddin Mahmud, Abd Waris Zein, Abd Hamid Edring, Ahmad Majid, dan Hamzah Hilal. Itulah nama guru yang sempat penulis peroleh datanya. Pada tanggal 25 Januari 1973 M. Ilyas Ghani pindah ke SMP Negeri Campalagian.

Bertepatan dengan perpindahan Muslimin Ismail ke Kantor Departemen Agama Kabupaten Polmas menjadi Kasub. Bagian Pendais, 1 April 1973, Dumair Kasim diangkat menjadi Kepala PGA 4 Tahun/6 Tahun. Pelajar dan siswa selalu saja ada dalam setiap tahunnya yang tidak kurang dari 50 orang dalam setiap tahunnya. Dumair Kasim memimpin sekolah ini hingga tanggal 1 Januari 1974. Pada tanggal 18 Agustus 1972 Perguruan Islam Campalagian dirundung malang, berduka cita atas berpulangnya ke Rahmatullah Tappaiyya K.

Pada tanggal 1 Januari 1974, Dumair Kasim kembali ke Sekolah Menengah Pertama Negeri Campalagian, maka ditetapkanlah Sumardin Tappaiyya, BA. sebagai kepala PGA 4 Tahun/6 Tahun. Dua puluh hari setelah pengangkatan Sumardin Tappaiyya, BA. tepatnya tanggal 20 Januari 1974, Mansur Hasan yang mendapat tugas belajar sejak tanggal 1 Juni 1968, kembali membawa oleh-oleh yang telah diperolehnya selama tugas belajar.

Mansur Hasan, BA mengabdi kembali di PGA 4 Tahun/6 Tahun dengan jabatan guru bantu. Beliau mengabdikan diri hingga tanggal 21 Januari 1975, karena adanya pergeseran guru agama. Dengan dipindahkannya Dumair Kasim dan Mansur Hasan, maka berarti Yayasan Perguruan Islam kekurangan dua orang tenaga inti yang diharapkan menunjang majunya usaha mencerdaskan kehidupan bangsa pada sekolah swasta.

Pelajar dan siswa PGA 4 Tahun/6 Tahun Yayasan Perguruan Islam pada saat itu sekitar 150 orang. Setiap tahun berhasil ditamatkan rata-rata 25 orang untuk kelas IV dan kelas VI setiap tahunnya. Tamatan PGA 6 Tahun sebagian melanjutkan studinya ke IAIN “Alauddin” dan IKIP Ujung Pandang. Bahkan ada yang melanjutkan studinya ke Pesantren Gontor Ponorogo Jawa Timur. Yang tidak melanjutkan studinya ada langsung mengabdikan diri kepada Perguruan Islam, seperti Maryam Idris, Mansur Yasi, Maddappungan, Muh. Arif Laidu, Hasliah Yusuf, dan Raehan Idris mendampingi A.R. Mu’minang membina dan mengasuh anak-anak pada Madrasah Ibtidaiyah. Yang melanjutkan studinya dan telah menyandang predikat sarjana  muda dan lengkap, antara lain Dra. Nur Asia Saing, Drs. Muh. Arifin, Drs. Sudirman Saing, dan masih banyak lagi yang masih menyandang predikat sarjana muda (BA) dan bertugas sebagai TKS BUTSI serta ada yang masih dalam taraf penyelesaian studi di Perguruan Tinggi. Mereka yang tidak melanjutkan studinya kini sebagian telah diangkat menjadi guru dan pegawai.

Pada bulan Pebruari pemerintah dalam hal ini Penilik Pendidikan Agama Islam (Pendais) Campalagian menugaskan Hajjah Baharah dan St. Hawa Kasim mengisi kekurangan guru pada Perguruan Islam Campalagian yang masih saja tetap mendapat dukungan dari masyarakat dengan memasukkan anak-anaknya ke Pendidikan Agama. Setiap tahun Perguruan Islam boleh dikata tidak pernah absen menerima siswa dari luar Kecamatan Campalagian, begitu Perguruan Islam harum semerbak sejak semula hingga akhir zaman insya Allah.

Pada tahun 1976, Dumair Kasim dipindahkan kembali ke Perguruan Islam ini dan St. Hawa Kasim dialihtugaskan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri Campalagian. Pada saat itu yang menjadi pimpinan sekolah masih saja Sumardin Tappaiyya K, BA. Menjelang Pemilu tahun 1977 Abd Hamid diberhentikan dari tugasnya sebagai guru oleh Camat Campalagian Andi Patajangi P. Hal ini disebabkan oleh terdaftarnya Abd Hamid sebagai calon anggota DPRD Kabupaten Polmas untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Pada pengangkatan guru umum dan guru Agama SD Inpres 1977, Ahmad Majid dan Hamzah Hilal diangkat menjadi guru tetap pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tanggal 1 Pebruari 1978, Dumair Kasim dipindahkan kembali ke sekolah ini setelah ditugaskan beberapa tahun sebelumnya. Bersamaan penugasan kembali Dumair Kasim, St. Asmah R juga ditugaskan dengan jabatan keduanya adalah guru bantu.

Pada awal tahun 1979 Sumardin T, BA. mengundurkan diri dari jabatannya, sebab merasa kesehatannya terganggu, maka ditetapkanlah Dumair Kasim, BA menjadi Kepala PGA 4 Tahun/6 Tahun. Pada akhir tahun ajaran 1979 PGA 6 Tahun dilebur menjadi Madrasah Aliyah. Sedangkan PGA 4 Tahun dilebur menjadi Madrasah Tsanawiyah.

Madrasah Tsanawiyah untuk tahun ajaran 1980 menerima murid baru untuk kelas I sebanyak 70 orang. Sedangkan kelas II dan III rata-rata 25 orang tiap kelas. Untuk tahun ajaran 1980 Madrasah Aliyah menerima siswa kelas I sebanyak 20 orang yang terdiri dari lulusan ujian negara dari Madrasah Tsanawiyah Perguruan Islam sendiri, Madrasah Tsanawiyah DDI Lapeo, serta lulusan dari SMP Negeri Campalagian. Jumlah murid/siswa sebelumnya sangat minim dibandingkan dengan tahun ajaran 1980 ini. Pelajar dan siswa PGA 4 Tahun/6 Tahun yang dipimpin oleh Sumardin Tappaiyya, BA dari kelas I sampai dengan kelas VI sejumlah 100 orang.

Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saat itu benar-benar membuka wajah baru Yayasan Perguruan Islam, menjadi cerah dari tahun-tahun sebelumnya. Dumair Kasim, BA mengerahkan segala daya fikirnya demi tercapainya tujuan pendidikan, berhasilnya cita-cita bangsa Indonesia dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Tenaga-tenaga pengajar yang mendampingi Dumair Kasim, BA pada saat itu antara lain Hj. Bahara, St. Asmah R, Nurdin Atjo, Abd Rasyid Atjo, Abd Djawad Kasim. Sedangkan tenaga-tenaga pengajar honorer, antara lain Abd Rahim, Muh. Ali Nurhamka, BA dan Abd Kadir U. Betapa pentingnya persyaratan berdirinya suatu sekolah. Guru, tenaga pengajar, lokasi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar dan murid. Dengan semangat juang jihad dalam penyebarluasan ajaran Islam, maka pihak pengurus berusaha keras sehingga Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah dapat berdiri sebagai Pendidikan Guru Agama 4 Tahun/6 Tahun Campalagian. Tenaga pengajar pada saat itu hanya 10 orang saja yang terdiri dari 6 orang guru negeri dan 4 orang tenaga honorer.

Madrasah Aliyah hanya berusia 1 tahun saja. Sedangkan penerimaan siswa baru untuk tahun ajaran 1981 ini agak kalang kabut, sehingga banyak lulusan Madrasah Tsanawiyah yang menganggur pada saat itu. Hal ini bukan karena kurangnya lokasi dan mobileir yang disiapkan oleh panitia, akan tetapi kurangnya tenaga pengajar. Dumair Kasim, BA yang memimpin Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah menyampaikan hal tersebut kepada Yayasan Perguruan Islam (YPI), tetapi pihak pengurus tiada berhasil mendatangkan tenaga pengajar baik dari tenaga guru negeri maupun tenaga pengajar honorer, sehingga Madrasah Aliyah dibekukan dan tidak lagi menerima siswa baru untuk kelas I. sedangkan yang sudah kelas II pada saat itu pindah dengan sendirinya ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Polmas. Siswa yang diterima hanya pada tingkat Tsanawiyah. Tenaga Pengajar dikerahkan,disatukan menghadapi siswa Madrasah Tsanawiyah saja.

 

BAB  IV

MADRASAH IBTIDAIYAH DAN PESANTREM

 

A.  Madrasah Ibtidaiyah Bonde

a.   Periode 1971-1979

Madrasah Ibtidaiyah Bonde didirikan oleh Yayasan Perguruan Islam Campalagian pada tanggal 1 Januari 1971. Murid yang masuk pada tahun I sangat memuaskan, hampir 60 orang yang ditampung dalam suatu ruangan pada ujung sebelah barat gedung PGA 6 Tahun Campalagian. Keenampuluh murid tersebut berdesak-desakan dalam satu ruangan yang belum mempunyai seorang pun guru. Untuk sementara waktu murid tersebut dibina dan dibimbing oleh Abd Rasyid Abdullah, Kepala PGA 6 Tahun Campalagian.

Abd Rasyid Abdullah, sekretaris Yayasan Perguruan Islam mencari tenaga pengajar untuk mengahadapi sebuah ruangan yang sedang dihuni 60 murid itu. Diangkatlah Abd Rahim sebagai tenaga sukarela. Abd Rahim mengabdi pada Madrasah Ibtidaiyah Bonde sejak tanggal 11 Januari 1971 hingga bulan September 1979.

Tenaga pengajar yang diperbantukan Pendais pada Madrasah Ibtidaiyah Bonde yang pertama adalah St. Hania. Beliau ditugaskan untuk mendampingi Abd Rahim pada Madrasah tersebut. Sebelumnya St. Hania bertugas di SDN Panyampa kemudian pindah ke PGA. Tetapi St. Hania minta agar ditempatkan di MTs saja. Kedatangan beliau pada MIS menambah semarak Perguruan Islam. Beliau menjalankan tugas yang dibebankan kepadanya sejak 30 Januari 1972 bersama-sama dengan Ruhaemah R. Murid semakin hari semakin bertambah maju serta ramai. PGA 4 Tahun/6 Tahun ketika itu juga bertambah maju hingga gedung yang didirikan beberapa tahun sebelumnya penuh sesak, sehingga untuk murid Madrasah Ibtidaiyah dilokasikan di beberapa kolong rumah.

Pada bulan September 1973, St. Hania dipindahkan kembali ke SDN Panyampa. Pada saat itu sudah ada 3 kelas yang harus ditanggulangi. Bertepatan dengan perpindahan beliau itu St. Rabiah Sida dipindahkan Pendais dari SDN Panyampa ke Madrasah Ibtidaiyah Bonde.

Dalam periode ini Madrasah Ibtidaiyah Bonde sungguh memprihatinkan murid-murid bertekuk lutut di bawah kolong rumah, sejak berdirinya hingga tahun 1975, selalu saja dipindah-pindahkan dari kolong rumah ke kolong rumah lainnya, sebab gedung yang didirikan Yayasan Perguruan Islam hanya mampu menampung kelas I sampai dengan kelas VI PGA 6 Tahun. Pada tahun 1971 MIS Bonde menumpang pada ujung gedung PGA sebelah barat, setelah mempunyai kelas III mulai menumpang di kolong rumah Kasunding kemudian ke kolong rumah Bolong Yanroja kemudian ke kolong rumah Wa’ Ribu’.

Setelah menamatkan pada tahun ajaran 1976 barulah ada rehabilitir sebanyak 3 lokal. Gedung yang terdiri dari 3 lokal itu menelan biaya Rp. 750.000 (Tujuh ratus limapuluh ribu rupiah). Tiga lokal itu tak dapat menampung 6 kelas murid sehingga 2 lokal lagi masih perlu menumpang di kolong rumah. Murid yang berhasil ditamatkan untuk yang pertama kalinya hanya 11 orang saja. Kesebelas orang murid tersebut kini telah sampai pada jenjang Perguruan Tinggi dan diharapkan kembali mengabdi.

Sejak berdirinya, Madrasah tersebut belum pernah mendapat tenaga pengajar sampai 6 orang guru negeri, namun hasil yang dicapai tidak jauh dari apa yang dicapai sekolah negeri. Hal ini nampak jelas pada sekolah-sekolah menengah yang menampung lulusan Madrasah Ibtidaiyah Bonde tersebut.

Guru yang mengabdi sejak tahun 1971—1976 antara lain; Abd Rahim M, Ruhaema Roma, St. Haniah, St. Rabiah S, Abd Razak, dan ditambah dengan 6 orang guru lainnya Mansur Darus, Hasliah Y, Maryam Idris, Abd Halim MD, M. Arif Laidu, dan Maddappungan, cucu KH.Maddappingan.

Setelah Abd Rahim M menyelesaikan studinya dengan predikat Sarjana Muda, maka ia dialhitugaskan ke PGA 6 Tahun, 1 Januari 1979.

b.      Periode 1979-1982

Madrasah Ibtidaiyah yang selalu tersendat dan agak lambat jalan ini tepat akhir tahun ajaran 1977 berhasil menamatkan murid untuk yang pertama kalinya sebanyak 6 orang. Benarlah kata orang: “Lebih baik terlambat dari pada tidak sampai.” Hal ini terbukti, penerimaan murid yang pertama 60 orang sedangkan yang berhasil ditamatkan hanya 10 % dari murid yang diterima pada tahun ajaran 1971, yaitu 6 orang saja.

Tenaga pengajar yang ada pada periode ini terdiri dari satu orang Kepala Madrasah dan 3 orang guru bantu. Madrasah tersebut dipimpin oleh Abdul Rasyid Sabir dan dibantu oleh St. Maryam K, St. Rabiah S, dan St. Hasanah. Abdul Rasyid Sabir memimpin Madrasah ini hanya satu kali menamatkan dan dipindahkan ke SMP Negeri Campalagian. Dengan dipindahkannya Abd Rasyid Sabir itu, maka beliau digantikan oleh Abd Aziz Saleh.

Abd aziz Saleh didampingi oleh St. Maryam K, St. Rabiah, dan St. Hasanah. Selama Madrasah ini diasuh oleh Abd Aziz Saleh telah membuka wajah Perguruan Islam lebih cerah, di mana setiap penamatan murid selalu saja berhasil baik dan 80 % masuk di Madrasah Tsanawiyah dan 20 % lainnya ke SMPN. Setiap tahunnya ditamatkan selama 3 tahun berturut-turut dari tahun 1980, 1981, 1982 rata-rata 15 orang.

Pada tahun ajaran 1981 Madrasah Ibtidaiyah Bonde mendapat bantuan dari Kesra berupa alat-alat mobileir sebanyak 120 pasang bangku dan meja murid, 6 buah kursi guru dan 6 buah lemari.

B.  PESANTREN AL-ARSYADIYAH

Menjelang hari ulang tahun proklamasi 1980, Pengurus Yayasan Perguruan Islam mengadakan rapat dalam rangka berdirinya kembali Madrasah Diniyah yang pernah dirintis oleh KH. Muhammadiyah. Keputusan rapat bahwa tak perlu lagi dalam bentuk madrasah, tetapi dalam bentuk pesantren. Pada tanggal 12 Agustus 1980 Yayasan Perguruan Islam mendirikan sebuah pesantren yang bernama Pesantren Al-Arsyadiyah yang dipimpin oleh Al-Istadz Abd Latif.

Untuk pertama kalinya Pesantren ini menerima santri sebanyak 225 orang dengan tenaga pengajar sebanyak 5 orang termasuk Abd Latif sendiri merangkap sebagai pimpinan Pesantren.

Pesantren ini diberi nama Al-Arsyadiyah adalah dalam rangka mengabadikan nama KH. Muhammad Arsyad alias KH. Maddappungan. Pesantren ini tidak dalam bentuk pengajaran pada tahap-tahap kelahiran Perguruan Islam yang dikenal dengan “Pangaji Kitab”, tetapi dalam bentuk sekolah. Lokasi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar pada gedung Madrasaj Tsanawiyah pada sore hari. Waktu belajar adalah pada tiap hari kecuali hari Jumat, dengan mata pelajaran yang diajarkan antara lain Lughat (Bahasa Arab) termasuk Nahwu. Sharaf, dan Khath. sedangkan ilmu fiqh, kitab yang dipelajarinya adalah Safinah al-Naja, Tafsir al-Qur’an, Hadis, dan al-Barzanji beserta terjemahannya. Di samping itu tak ketinggalan latihan berpidato dalam rangka menghadapi hari-hari tertentu, seperti dalam rangka peringatan Maulid, Isra’ Mi’raj, dan lain-lain.

Hajah Hadarah yang pernah menjadi guru bantu pada Madrasah Diniyah yang dipimpin oleh KH. Muhammadiyah pada tahun 1930—1937. Di antara 225 orang santri itu dibagi menjadi 3 kelas dengan pengajar untuk kelas III al-Ustadz Abd Latif. Sedangkan untuk kelas I dan II masing-masing H. Hadarah dan Abd Latif Abbana Yaman. Pesantren ini masih berjalan sampai sekarang dan telah sampai 5 kelas pada saat sekarang.

BAB  V

P E N U T U P

A.    Kesimpulan

Perguruan Islam Campalagian adalah salah satu Yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan pengajaran agama Islam. Perguruan Islam adalah salah satu nama Yayasan yang telah lama dikenal masyarakat Campalagian pada khususnya dan dan Mandar pada umunya.

Yayasan ini didirikan pada bulan Ramadhan 1347 H/1930 M oleh Almarhum KH.Abd Hamid Dahlan (Kadhi Campalagian) yang wafat pada tahun 1948 yang didampingi oelh KH. Maddappungan (wafat pada tahun 1954) salah seorang penyebar agama Islam yang terkenal pada zaman penjajahan Belanda. Setelah santri-santri mendapat bimbingan yang baik dan teratur, maka pada tahun 1931-1853 Perguruan ini oleh santri yang telah dibimbing itu, seperti KH. Muhammadiyah (Khatib Campalagian), KH. Mahmud Ismail (Ex. Imam Masjid Jami’ Polewali), dan KH. Muda’ Abdullah.

Pendidikannya terkenal dengan nama “Pangngaji Kitta’” yang bertujuan mendidik santri agar dapat membaca kitab gundul serta memahami isi kandungannya. Mata pelajaran yang diajarkan, yaitu nahwu, sharaf, fiqh, tauhid, tafsir, hadis, dan lain-lain. Lama belajarnya tidak ditentukan hanyalah berdasarkan faham hanyalah berdasarkan faham dan banyaknya kitab yang dikuasainya. Sistem pendidikannya adalah sistem halaqah (melingkar).

Kegiatan dan protes berlangsungnya kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di rumah Puang Panrita, H. Muhammad Arsyad alias KH. Maddapungan. Setelah santri-santri melimpah yakni adanya santri-santri dari luar daerah Campalagian seperti Polewali, Palanro (Kabupaten Barru), Pangkajene Sidrap, Watampone (Kabupaten Bone), Pare-Pare, Pinrang, Kalimantan, masalembo (Kabupaten Sumenep), dan lain-lain. Maka Pesantren ini mengambil lokasi di Serambi Masjid Raya Campalagian. Dengan perpindahan itu, maka diganti namanya dari “Pangngaji Kitta’” menjadi “Pesantren Calon Alim Ulama” Campalagian.

Perguruan Islam Campalagian secara terorganisir didirikan pada tanggal 1 Januari 1959 dengan susunan panitianya masing-masing Ketua I H. Mas’ud Abda’u dan S.H. Muhammad Said Hasan sebagai ketua II. Panitera Umum Abd Mutim Rukkawali, panitera I dan II masing-masing Abd Rasyid Abdullah dan Abd Muis Dahlan. bendahar dipercayakan kepada HM. Mahmud Yamin dan pembantu utamanya Atjo Patjiddai.

Pesantren Calon Alim Ulama dipimpin oleh Bapak Ahmad Zein? (Abd Wahab?) dengan tenaga pengajar; KH. Muhammad Zein, KH. Mahmud Ismail, KH. Najamuddin nTahir. Pesantren ini usahanya hanya sampai bulan desember 1960. Selain dari Pesantren juga pendidikan anak-anak yang setingkat dengan Sekolah Dasar bernama Sekolah Rakyat Islam (SRI) pada tahun 1953.

Pada tahun 1953 Perguruan Islam membangun sebuah gedung di atas sebidang tanah wakaf dari H. Abd Hamid perintis yayasan Perguruan Islam Campalagian. Tanah tersebut kurang lebih setengah ha. Pada tanggal 30 Juli 1963 Perguruan Islam mendirikan Pendidikan Guru Agama Pertama (PGAP) 4 Tahun serta membaharui susunan pengurusnya dengan susunan panitianya masing-masing Ketua I dan II Muh. Sail Tahir dan Mansur Rebo merangkap sebagai Kepala PGA 4 Tahun dari tahun 1963—1965. Sedangkan bendahara adalah S. H. Muhammad Said Hasan dan dilengkapi seksi-seksi.

Setelah Mansur Rebo mendapat tugas belajar, maka bveliau digantikan oleh Mansur Hasan dan menjabat pimpinan PGA 4 Tahun dari tahun 1965-1968. Mansur Rebo dan Mansur Hasan adalah guru agama Islam negeri yang ditugaskan pemerintah pada Perguruan Islam Campalagian. Dibawah pimpinan Mansur Hasan, pelajar yang berhasil ditamatkan rata-rata 20 orang setiap tahunnya.

Melihat kemajuan dan banyaknya pendukung serta melimpahnya pelajar, maka pengurus Perguruan Islam ini membangun sebuah gedung dalam bentuk semi permanen, tetapi sayang seribu sayang gedung yang dibangun itu sebelum mencapai kesempurnaannya roboh akibat bencana alam.

Pada akhir tahun ajaran 1968, Mansur Hasan tugas belajar pada IAIN “Alauddin” Ujung Pandang mengikuti jejak Mansur Rebo dan segera digantikan oleh Abd Rasyid Abdullah yang diangkat Pengurus Yayasan Perguruan Islam dari tahun 1968 sampai 1970 dan dibantu guru agama Islam negeri yang ditugaskan pemerintah . . . . . . . . bersambung ?

SEJARAH MESJID RAYA CAMPALAGIAN

ICHTISAR SEDJARAH “MESDJID TJAMPALAGIAN”

Sebelum daerah Mandar ditaklukkan oleh Pemerintah Belanda, jaitu kira2 pada pertengahan abad ke XVIII, daerah Tjampalagian merupakan suatu daErah jang berbentuk OTONOMIE dengan susunan pemerintahan setjara otokrasi, dikepalai oleh seorang Radja jg bergelar MARADDIA.

Pada zaman itu, salah seorang penduduk asli didaerah ini, keluar negeri (merantau) sehingga dalam perantauannja itu, mendapat pendidikan Agama Islam, achirnja beliau pulang kembali membawa dan memasukkan faham Agama Islam.

Setelah beberapa tahun, beliau mangkat; lalu dimakamkan dalam lingkungan kebunnja, sehingga beliau bergelar TOMATINRO-E RIDARAKNA. (bah. Indonesia, BERADU DIKEBUNNJA). Sesudah itu, pula berturut-turut datang didaerah ini beberapa Guru dan Ulama, diantaranja terdapat seorang Ulama bergelar “Toilang”.

Menurut riwajat, bahwa Toilang tersebut tiba disini dengan menumpang sehelai tikar dari Tanah Sutji (Mekkah). Ini, didasarkan diatas Kudratillah (wallahu alam bissawab). Beliaulah mula2 membawa dan mengatur hukum Sjarat berfitrah, dengan sukatan gantang jang menjadi buah bibir orang sampai sekarang, ialah “gantang toilang” jang sederadjat atau seberat ukuran 5 kati Bagdad, jang mendjadi takaran pengeluaran zakat di masa lampau, jaitu dimasa abad ke XVIII sampai abad ke XIX itu.

Beliaupun mufakat oleh guru2 lainnja, memadjukan usaha didjurusan bangkitan semangat keagamaan dan akan membangunkan “satu surau (Langgar) sebagai tempat berdjamaah dan sebagainja”. Kemudian dengan usaha seorang guru agama jang lain, jang bernama “PUANNA LAUMMA’”, didirikannja sebuah Surau (Langgar) dikampung Banua Parappe (Tjampalagian), karena dikampung itulah mendjadi pusat kedudukan pemerintah (Maraddia). Pada waktu itulah, maka Puanna Laumma’ tersebut diangkat oleh Maraddia menjadi KADHI (penghulu sjarat).

Setelah sesuatu keadaan jang menjebabkan Kadhi PUANNA LAUMMA’ tadi meletakkan djabatan, kemudian sebagai peralihan menurut masa dan keadaan, berturut2 diangkat sebagai pengganti:

  1. Hadji Pua’ Djamila,
  2. Pua’ Tjani,
  3. Pua’ Tipa, dan
  4. Hadji Djannatong

Beliaulah (Hadji Djannatong) jang meneruskan usaha dan pemeliharaan Surau (Langgar) itu.

Pada tahun 1825, datanglah seorang ulama’ suku DJAWA, bernama “HADJI MUHAMMAD AMIN”, berasal dari Djawa Timur, lahir di Kampung KETAPANG (Surabaja). Beliaulah jang mengatur Pengadjian dan memperdalam faham Agama Islam didaErah ini.

Pada tahun 1828, oleh usaha beliau pula dengan permufakatan Pemerintah (Maraddia) jang bernama “AMMANAMADJDJU”, maka Surau (Langgar) jg tadinja di kampung Banua Parappe itu, mulai dipindahkan kekampung MASIGIT (Tjampalagian) karena kampung tersebut dianggap pertengahan daErah Tjampalagian. Pada waktu itu djuga oleh kemauan Maraddia, maka HADJI MUH. AMIN tersebut, diangkat sebagai KADHI (Penghulu Sjarat) Tjampalagian.

Setelah berdjalan kira2 tiga tahun, beliau meletakkan djabatannja, dan jang mendjadi pengganti meneruskan tugas dan usaha itu, oleh kemauan Maraddia pula, diangkatnja seorang Kadhi jang bernama ”PUA’ EGONG” murid beliau djuga; jang mana Pua’ Egong tsb, pernah mendjadi (memangku djabatan) sebagai Kadhi sebelum beliau tiba di daerah tjampalagian.

Peralihan susunan PEMERINTAHAN menurut abad, zaman dan keadaan, maka susunan peralihan perubahan pengangkatan Maraddia, dan Kadhi pun demikian, sehingga mendjadi peredaran pergantian Kadhi, berturut-turut sbb:

  1. Tahun  1836  sampai  1840   Kadhi  PUA’ EGONG
  2.     “      1840      “        1875   Kadhi  HADJI DJUMALANG
  3.     “      1875      “        1882   Kadhi  HADJI PATJO PUA’ SAENONG
  4.     “      1882      “        1883   Kadhi  HADJI BASIRA’
  5.     “      1883      “        1889   Kadhi  HADJI PUA’ MURIBA
  6.     “      1889      “        1892   Kadhi  SJECH HADJI ABDUL KARIM
  7.     “      1892      “        1894   Kadhi  HADJI IDRIS
  8.     “      1894      “        1895   Kadhi  HADJI MUHAMMAD SALEH
  9.     “      1895      “        1948   Kadhi  HADJI ABDUL HAMID

Pada tahun 1898 (abad ke XIX) telah tiba pula didaerah ini, seorang ulama bangsa ARAB suku HADRAMAUT, bernama “Said Alwi bin Sahal al-Idrus” beliau diam didaErah ini, serta kerdja sama dengan Kadhi Hj. Abdul Hamid. Kedatangannja lebih memperluas sjiar Agama Islam, serta membasmi segala persembahan berhala bagi Rakjat, jg masih fanatik kepada faham jang mirip pada Agama Hindu, jang dianut dan diperkembang oleh “Sawerigading”.

Pada saat itu, kemadjuan Agama Islam didaErah Tjampalagian telah meningkat, sehingga Surau2 (langgar) tadi itu, mulai dibongkar dan didjadikan (diubah) mendjadi MESDJID, jang dipelopori oleh beliau (Said Alwi) tsb bersama-sama Kadhi Abdul Hamid dengan seorang jang berpengaruh dengan pengikut2nja bernama KARRU DAENNA PETTI jang pernah djuga mendjabat pangkat Maraddia Tjampalagian.

Pada tahun 1905, masuk abad ke XX, Belanda mulai masuk (mendarat) didaErah ini. Pada waktu itu, mulai menjusun serta mendjalankan pengaruh dan Pemerintahannya secara kolonial. Pemerintah daErah, mulai pula diberi dan dididik peraturan kolonialisme dan Imperialisme, tetapi namun demikian faham Islam telah meresap kedalam djiwa rakjat, sehingga usaha pembentukan Mesdjid diteruskan, sampai didalam sedjarah daErah ini, MESDJID TJAMPALAGIAN, salah suatu mesdjid jang besar dalam lingkungan daErah Mandar.

Pada tahun 1928, tiba lagi didaErah ini seorang alim ulama (mufthi dari Mekkah/Imam mazhab Sjafei), jang bernama “SJECH HASAN AL-YAMANY”. Beliau tinggal dan kawin dengan seorang anak perempuan dari Said Hasan, diam dikp. Bonde (Tjampalagian), jang mana Said Hasan tsb, salah seorang pemuka rakjat jang berpengaruh. Imam mazhab Sjafei tsb, mengadjak masjarakat ramai bergotong-rojong didjurusan ibadat, sehingga waktu itu, sembahjang berdjamaah dimesdjid tiap2 waktu, menjerupai sembahjang pada waktu djumat, dan achirnya oleh andjuran beliau, bersama-sama Rakjat memperbaiki bentuk perlengkapan bangunan mesdjid Tjampalagian.

Dengan usaha beliau serta mertuanja (Said Hasan), dengan Kadhi Hadji Abdul Hamid pula, maka Mesdjid Tjampalagian terbentuk dengan selengkapnja.

Pada tahun 1948, Kadhi HADJI ABDUL HAMID meninggal, maka dengan permufakatan antar Maraddia Tjampalagian (Abd. Madjid) beserta pemuka Rakjat, untuk menggantikan beliau, diangkat sebagai Kadhi jang bergelar (istilah sekarang), ialah “HADJI MADDAPPUNGAN”, bekas Kadhi Sidenreng (Pare2) dan Kadhi Binuang (Polewali). Dan beliau mulai mendjabat pangkat tersebut dalam tahun itu djuga.

Karena terbukti kian hari kian bertambah penduduk, bertambah pula madju dan mendalam faham Agama, maka dengan suatu permusjawaratan, antara PENGHULU SJARAT, MARADDIA dan PEMUKA2 RAKJAT, dapat memikirkan, bahwa MESDJID TJAMPALAGIAN PERLU DIBESARKAN.

Pada tgl. 17 Pebruari 1952, dengan putusan suatu rapat bersama, ialah: “mesdjid Tjampalagian akan dirombak dengan taksiran biaja banjaknja Rp. 150.000, 00 (seratus lima puluh ribu rupiah)”. Bukti perobahan itu sedang dikerdjakan sekarang.

Pembentukan usaha perubahan Mesdjid ini, ialah telah disusun setjara organisasi jang dibentuk merupakan urusan sosial, didalam asuhan suatu PANITIA SEMENTARA jang terdiri sebagai:

  1. Pelindung                                Abd. Madjid (Maraddia Tjampalagian)
  2. Penasihat                                 Hi. Maddappungan (Imam)
  3. Penasihat II                             Hi. M. Saleh (guru pensiun)
  4. Ketua                                      Hi. Djuhari
  5. Wkl Ketua                               Hi. M. Zain
  6. Penulis I                                  M. Mas’ud Rahman
  7. Penulis II                                 Hi. M. Diah
  8. Bendahara                               Hi. Abdau
  9. Pembantu2                              Hi. M. Ali
  10.        “                                       Hi. Mustafa Siddiek
  11.        “                                       S. Husain Alwie
  12.        “                                       Hi. Rukkawali
  13.        “                                       Kamaruddin
  14.        “                                       Sahur Djafri
  15.        “                                       14 (empat belas) KEPALA KAMPUNG dalam distrik

Tjampalagian, dan kepala pembantu diundjuk Said Hasan.

Panitia sementara ini, akan dibubarkan, dan disusun kembali setelah diadakan rapat jang akan datang.

Perlu ditambahkan, bahwa biaja jang dipergunakan untuk perongkosan mesdjid itu, adalah hasil pemungutan derma dari rakjat, pedagang2 dsb.

Pemungutan derma tersebut, adalah dalam persetudjuan dan pengetahuan Pemerintah. Pemakaian perongkosan jang dipergunakan sekarang, sudah Rp. 46.000, 00 (empat puluh enam ribu rupiah). Bukti usaha dan perbaikan Mesdjid ini, telah disaksikan oleh Kepala daErah Kabupaten Mandar bersama Kepala2 Djawatan lainnja.

Demikianlah sedjarah ringkas dari MESDJID TJAMPALAGIAN inI

Disalin sesuai aslinya oleh Wajidi Sayadi,  pada hari Selasa, 30 Juni 2003 di Jakarta.

Telah dilihat dan                     Telah diketahui                                   Tjampalagian, 24 April 1953.

disaksikan,                              NAIB KETJAMATAN                      an. Imam/Kadhi

KEP. DIST.                            TJAMPALAGIAN

TJAMPALAGIAN,

(Abd. Madjid)                         (H. Muh. Saleh)                                  (H. Muh. Zain)

SEJARAH CAMPALAGIAN

Sejarah Singkat Awal Masuknya Pendidikan Islam di Campalagian

Sebagaimana kita ketahui bahwa pada abad ke- 16 s/d 17 agama Islam sudah tersebar di Sulawesi Selatan, diantaranya ialah di Gowa, Bone, Luwu, Wajo, Bulukumba, dan sebagainya. Tapi, pusat penyiaran Islam adalah di Gowa, jadi dari penduduk Gowalah yang membawa ajaran agama Islam ke Belokka (Sidrap).

Oleh karena penduduk Gowa mengembangkan agama Islam di daerah Belokka sehingga Abdul Karim (putera kelahiran Belokka) ia bisa memperdalam ilmu agamanya. Sebagai putera Bugis yang terkenal sebagai perantau dan pelaut ulung dan mahir berlayar ditambah lagi ia selalu merasa kekurangan ilmu agamanya sehingga ia keluar meninggalkan daerahnya menuju Pulau Kalimantan tepatnya di Pontianak Kalimantan Barat. Di sanalah beliau banyak belajar dan bahkan menulis beberapa kitab dan kamus, sebab pada saat itu, masih sangat langka dan kurang kitab cetakan dari Mesir. Beberapa tahun tinggal dan menetap di Pontianak, beliau berangkat ke Mekah untuk lebih memperdalam ilmu agamanya. Di Mekah banyak sekali guru tempat ia mengaji, seperti Syech Said al-Yamaniy (ayah kandung Syech Hasan Yamaniy) mantan mufti Syafi`i di Masjid al-Haram, Syech Bakri Syatha’ penulis kitab “I`anah al-Thalibin Syarh Fath al-Mu`in”, dan sebagainya.

Sekembalinya dari Mekah, beliau tinggal dan menetap di Pontianak berkeluarga di sana. Setelah itu beliau pulang ke kampung halamannya di Belokka Sidrap Sulawesi Selatan. Ketika dalam perjalanannya, yaitu ketika masih di wilayah Makassar, beliau sempat bertemu dengan salah seorang pedagang dari Mandar (Campalagian), namanya Annangguru Kaiyyang (guru besar). Informasi dari S. Sail (Puang Sail), bahwa ia bertemu dengan Ampona Ampo Juba (H. Pua’ Muriba Kadhi Campalagian XI 1883-1889 M). Dalam pertemuan ini H. Pua’ Muriba atau Annangguru Kaiyyang mengajak Syech Abdul Karim agar sudi datang mengunjungi daerah Campalagian untuk mendakwahkan ajaran Islam terutama membangun pendidikan Agama Islam di sana. Ajakan dan permohonannya dikabulkan akhirnya datang Syech Abdul Karim di Campalagian.  (sekitar tahun 1883 M).

Di Campalagian, beliau sempat mencetak murid dan kader, diantaranya ialah KH.Maddeppungan. Antara Syech Abdul Karim dan KH.Maddeppungan sangat akrab, karena keduanya terdapat hubungan keluarga yang masih dekat. Ayah KH.Maddeppungan adalah bersaudara dengan Syech Abdul Karim. Jadi, beliau adalah keponakannya sendiri. KH.Maddeppungan yang lahir di Belokka juga adalah keponakan sendiri dari Syech Abdul Karim. Ketika Syech Abdul Karim hendak menuju Campalagian beliau sempat singgah di Belokka, di sanalah beliau bertemu dengan keponakannya KH. Maddeppungan. Selanjutnya Syech Abdul Karim berangkat menuju Campalagian ditemani oleh kemanakannya Maddeppungan yang saat itu baru berusia sekitar 13 tahun.

Setelah Syech Abdul Karim meninggalkan Campalagian, KH.Maddeppunganlah yang melanjutkan usaha dan program proses belajar mengajar tentang ajaran Agama Islam. KH. Maddeppungan merupakan murid dan kader unggulan yang melanjutkan perjuangan sang guru sehingga beliau mencetak banyak murid dan kader yang tidak hanya terbatas di Campalagian tapi banyak tersebar di berbagai daerah di Sulawesi Selatan, karena pengajian beliau banyak dihadiri murid-murid yang berasal dari berbagai latar belakang dan daerah di wilayah Sulawesi dan bahkan ada dari luar Sulawesi.

PERIODISASI QADHI CAMPALAGIAN

 

Qadhi dari segi etimologi berasal dari bahasa Arab; dari akar kata Qadhâ yang artinya mengerjakan atau melaksanakan. Dalam struktur bahasa Arab bentuknya adalah ismu fa’il (kata benda yang menunjuk pada nama pelaku), yaitu QadhâYaqdhîQâdhi. Qadhi artinya pelaksana. Secara terminologi, Qadhi dalam tradisi ilmu fikih ialah seorang hakim yang memutuskan perkara hukum yang terjadi di kalangan masyarakat. Dalam tradisi masyarakat Campalagian seorang Qadhi, selain mampu memutus perkara, juga mampu memberikan fatwa, arahan, panutan, keberanian, ketegasan, dan kemampuan memimpin shalat berjamaah dan mampu menyelesaikan persoalan umat. Oleh karena itu, seorang Qadhi terkait erat dengan kepemimpinan Masjid sehingga Qadhi biasanya merangkap imam, sebab masjid sebagai simbol sentral kegiatan keagamaan dan sosial umat.

Proses lahirnya seorang Qadhi, selain karena adanya Masjid juga karena atas persetujuan dan pengangkatan oleh Maraddia. Harapan Maraddia mengangkat Qadhi adalah sebagai pembantu di bidang keagamaan, bahkan kadang-kadang menjadi penasehat strategi perang. Oleh karena itu, seorang Qadhi, selain ahli agama, juga harus mempunyai ilmu kebal diri, ilmu Sirabun (ilmu yang bisa menghilang atau tidak dapat terlihat oleh mata kepala). Mengingat tuntutan situasi dan kondisi pada zaman itu di mana Maraddia sering menghadapi masalah perang dengan kerajaan lain.

Dengan demikian, keberadaan seorang Qadhi, diapit dan berada pada dua lapisan, yaitu:

a.      Lapisan atas pada sisi politis sebagai penasehat Maraddia.

b.      Lapisan bawah pada sisi sosial keagamaan sebagai pemimpin shalat jamaah dan pemutus perkara serta guru dan panutan masyarakat.

Berbicara masalah sejarah ke-Qadhi-an di Campalagian tidak dapat dilepaskan dengan pembicaraan sejarah berdirinya Masjid Raya Campalagian, sebab lahirnya Qadhi itu diawali dari lahirnya masjid Raya Campalagian itu sendiri. Makanya keberadaan Qadhi itu merangkap sebagai imam atau pemimpin jamaah di Masjid. Dalam sejarah pendirian dan perkembangan Masjid Raya Campalagian telah mengalami 2 periode dengan sejumlah qadhi yang pernah menjabat dan memimpinnya, yaitu:

Periode Banua

Periode Banua ini merupakan tonggak awal berdirinya Masjid Raya Campalagian. Banua[1] merupakan pusat kegiatan pemerintahan Campalagian yang berbentuk otonomi yang dipimpin oleh seorang Raja bergelar Maraddia. Kepemimpinan Maraddia di Banua ini berlangsung sejak sekitar pertengahan abad XVIII M sebelum Kolonial Belanda menaklukkan daerah Mandar. Setelah periode To Matinro-e Ri Dara’na (sekitar pertengahan abad XVIII M), muncul periode To Ilang seorang ulama yang berasal dari Mekah datang di Campalagian dengan mengendarai sehelai tikar. Beliaulah yang mula-mula mengajarkan aturan hukum syariat mengeluarkan zakat fitrah dengan menggunakan sukatan gantang yang populer dengan nama “Gantang Toilang”. Periode  To Ilang ini berlangsung sekitar abad ke XVIII M sampai abad ke XIX M.

To Ilang bekerja sama dengan berbagai pihak khususnya dengan seorang guru agama (guru ngaji) bernama Puanna Laumma’ mendirikan sebuah Langgar di Banua sebagai tempat shalat berjamaah dan kegiatan keagamaan lainnya. Dan sekaligus Puanna Laumma’ diangkat oleh Maraddia menjadi Qadhi. Oleh karena itu, Qadhi pertama kali dan sekaligus pendiri  Masjid Raya Campalagian adalah Puanna Laumma’.

Selama periode Banua ini Masjid Raya (masih berbentuk Langgar) telah dipimpin oleh 5 orang Qadhi, masing-masing:

  1. Puanna Laumma’ (Meletakkan jabatan)
  2. Hadji Pua’ Djamila,[2]
  3. Pua’ Tjani,
  4. Pua’ Tipa, dan
  5. Hadji Djannatong

Periode Kampung Masigi[3]

Pada tahun 1825 M, datanglah H. Muhammad Amin seorang ulama dari Jawa Timur, tepatnya dari Kampung Ketapang. Atas usaha dan jasa beliau pengajian dan kegiatan keagamaan semakin maju. Pada tahun 1828 M, Langgar di Banua dipindahkan ke Kampung Masigi atas usaha H. Muhammad Amin dengan persetujuan Pemerintah (Maraddia) Ammana Majju’. Alasan perpindahan ini adalah, Kampung Masigi lebih strategis karena letaknya pada pertengahan wilayah Campalagian sehingga lebih terjangkau oleh seluruh masyarakat khususnya dalam shalat berjamaah dan kegiatan keagamaan lainnya. Lokasi yang ditempati bangunan Masjid tersebut adalah milik H. Muhammad Amin sendiri. Pada waktu itu juga atas kemauan Maraddia (Ammana Majju), maka H. Muhammad Amin diangkat sebagai Qadhi Campalagian.

Selama periode Kampung Masigi ini Masjid Raya telah dipimpin oleh 13 orang Qadhi, masing-masing:

  1. H. Muhammad Amin                          (1833—1836)[4]            (3 tahun lamanya)
  2. Pua’ Egong                                         (1836—1840)[5]            (4 tahun lamanya)
  3. H. Djumalang                                      (1840—1875)              (35 tahun lamanya)
  4. H. Patjo Pua’ Saenong                        (1875—1882)              (7 tahun lamanya)
  5. H. Basira’                                            (1882—1883)[6]            (1 tahun lamanya)
  6. H. Pua’ Muriba                                   (1883—1889)[7]            (6 tahun lamanya)
  7. Syekh H. Abdul Karim                       (1889—1892)[8]            (3 tahun lamanya)
  8. H. Idris                                                (1892—1894)[9]            (2 tahun lamanya)
  9. H. Muhammad Saleh                          (1894—1895)[10]           (1 tahun lamanya)
  10. H. Abdul Hamid                                 (1895—1948)[11]           (53 tahun lamanya)
  11. H. Maddappungan                              (1948—1954)[12]           (6 tahun lamanya)
  12. KH. Muhammad Zein                         (1954—1983)[13]           (29 tahun lamanya)
  13. KH. Muhammad Dahlan Hamid        (1983—Sekarang)[14]

Jakarta, 7 Desember 2003 M

13  Syawal    1424 H

Wajidi Sayadi[15]


[1] Banua dalam bahasa Campalagian berarti kampung, daerah, atau wilayah. Banua sekarang sebuah dusun Desa Parappe. Di Banua ini terdapat pekuburan bersejarah, tempat dikuburkannya To Matinro-e Ri Dara’na.

[2] H. Pua’ Djamila mempunyai anak, yaitu Djamila, Ampo Dani, dan Ampona H. Hawang. H. Hawang melahirkan Inrona H. Aco. Dan H. Aco melahirkan Ma’rifah. Ma’rifah melahirkan H. Darwis (Mantan Camat Wonomulyo. (H. Pua’ Djamila → Djamila — Ampo Dani –Ampona H. Hawang → Inrona H. Aco → Ma’rifah → H. Darwis).

[3] Masigi dalam bahasa Campalagian berarti masjid. Disebut kampung masigi, sebab daerah inilah yang pertama kali ada masjid. Kampung Masigi merupakan pusat Desa Bonde.

[4] H. Muhammad Amin menjabat Qadhi selama 3 tahun lalu mengundurkan diri. Melihat masa jabatannya selama 3 tahun, maka diperkirakan masa ke-Qadhi-annya ialah 1833—1836, sebab penggantinya, yaitu Pua’ Egong mulai menjabat Qadhi tahun 1836. Dan 1836 dikurangi 3 tahun berarti 1833. Muhammad Amin terkenal dengan sebutan To Manlinrungnge suatu julukan kehormatan bagi beliau. Cucu beliau yang masih hidup sampai sekarang adalah keluarga puteri-puteri H. Mustafa Sidik, yaitu Hj. St. Nur, Hj. St. Aminah. Hj. Dr. Nadirah dan termasuk M. Idrus Alwi Abbana Sima (sebagai generasi IV dari beliau).

[5] Pua’ Egong adalah murid H. Muhammad Amin sendiri.

[6] H. Basira’ melahirkan anak yaitu Yaddi, Fida, Kale, Abd Fattah, dan Niari. Abd Fattah melahirkan Ampo Djida. Jida melahirkan Rustam. (H. Basira’ → Abd Fattah → Ampo Djida → Djida → Rustam). Niari inrona Ampo  Fudu. (H. Basira’ → Niari → Subaer Ampo Fudu → Fudu Abbana Yalang).

[7] H. Pua’ Muriba melahirkan Amponan Ampo Djuba. Amponan Ampo Djuba melahirkan Djuba, Wa’ Dia istri Pak Halidda, dan Pati inrona Jawahir. (H. Pua’ Muriba → Ampona Ampo Djuba → Djuba-Wa’ Diah-Pati →Jawahir).

[8] Syekh H. Abdul Karim adalah paman dan guru H. Maddappungan yang berasal dari Belokka Sidrap.

[9] H. Idris melahirkan inrona Abbana Nawabi (H. Juhari) dan Pua’ Geteran. H. Juhari melahirkan Hj. Asiah Wa’na Yati, St. Nur Wa’na Yeni, dan Dahlan ayahnya Nur Dahlan Jerana. Pua’ Geteran melahirkan H. Muhammad Said (Kepala kampung Masigi) ayahnya Hasan Basri. (H. Idris → H. Juhari → Hj. Asiah — St. Nur – Dahlan → Nur). (H. Idris → Pua’ Geteran → H. Muhammad Said → Hasan Basri Abbana Yedi).

[10] H. Muhammad Saleh biasa dikenal dengan Puadji Kali adalah ayah H. Abdul Hamid. Atau dikenal dengan Kali Massue’ menjabat Qadhi hanya setahun, lalu ia pergi ke Pakkammisang membangun dan membina Masjid di sana.

[11] Pada era H. Abdul Hamid inilah Langgar mulai dirubah menjadi sebuah Masjid atas bekerja sama dengan Said Alwi bin Sahl Jamalullail (w. 1934) seorang ulama dari Hadramaut datang di Campalagian pada tahun 1898 M dengan dukungan penuh Karru’ Daenna Petti (Maraddia Campalagian). Pada era ini aktivitas keagamaan di Campalagian mengalami kemajuan yang pesat.

[12] Menurut Kiyai Ahmad Zein (mantan Ka.KUA Kec. Campalagian), H. Maddappungan pada dasarnya tidak mau menjabat Qadhi, tapi karena sangat dibutuhkan dan hampir terpaksa sehingga beliau mau menjabat. Sebelumnya beliau Qadhi di Benuang dan penggantinya Qadhi di Benuang adalah KH. Muhammad Zein. H. Maddappungan menjabat Qadhi hanya sekitar 3—4 tahun, beliau mengundurkan diri sebelum wafat pada tahun 1954. (Wawancara pada Ahad malam 30 Nopember 2003. Hal ini berbeda dengan keterangan dari H. Muhammad Dahlan Imam Masjid Raya campalagian, menurutnya H. Maddappungan menjabat Qadhi hingga wafat. (Wawancara pada Ahad malam, 30 Nopember 2003.

[13] KH. Muhammad Zein lahir pada bulan Januari 1910 dan wafat pada hari Selasa, 13 Nopember 1988 dalam usia 78 tahun. Menurut puteranya Kiyai Ahmad Zein, Muhammad Zein pernah 2 kali menyerahkan jabatan Qadhi sementara kepada puteranya Ahmad Zein selama kurang lebih 3 tahun sekitar tahun 1962 sampai 1965 ketika beliau sakit dan merasa tidak bisa lagi memangku jabatan itu. Penunjukan ini setelah melalui pemilihan di antara Ahmad Zein, KH. Mahdi, dan H. Mahmud Yamin. Oleh karena itu, Kiyai Ahmad Zein pernah disebut Qadhi Muda. Namun setelah sehat, beliau memangku kembali jabatan itu hingga beliau tidak dapat lagi memimpin jamaah karena buta matanya, yaitu sekitar tahun 1983. Lalu selanjutnya dijabat lagi oleh Kiyai Ahmad Zein yang merangkap sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Campalagian. Hal ini setelah melalui pemilihan dengan calon masing-masing : Ahmad Zein, KH. Mahdi, Baharuddin Muhammadiyah. Kiyai Ahmad Zein menjabat Qadhi (peralihan) sebelum terpilih KH. Muhammad Dahlan sekitar tahun 1987. Hal ini sangat berbeda dengan keterangan KH. Muhammad Dahlan sendiri yang menurutnya, jabatan Qadhi beliau pangku setelah terpilih dalam pemilihan di antara Ahmad Zein, KH. Mahdi, dan Baharuddin Muhammadiyah pada tahun 1983 hingga sekarang.

[14] Keterangan Kiyai Ahmad Zein di atas sangat berbeda dengan keterangan KH. Muhammad Dahlan sendiri yang menurutnya, jabatan Qadhi beliau pangku setelah terpilih dalam pemilihan Qadhi di antara rivalnya Ahmad Zein, KH. Mahdi, dan Baharuddin Muhammadiyah pada tahun 1983 hingga sekarang. KH. Muhammad Dahlan lahir pada tahun 1926/1927. Menjabat sebagai Qadhi pada usia 57 tahun.

[15] Informasi tentang H. Pua’ Djamila, H. Basira’, H. Pua’ Muriba, H. Idris, H. Muhammad Saleh adalah diperoleh dari H. S. Muhammad Said (Puang Sail) yang diwawancarai pada hari Rabu, 26 Nopember 2003 di Pappang Campalagian.

SILSILAH QADHI CAMPALAGIAN

 Qadhi I                       Puanna Laumma’

Qadhi II                       Hadji Pua’ Djamila                         Djamila, Ampo Dani, dan Ampona H.Hawang

Qadhi III                      Pua’ Tjani                                             H. Hawang

Qadhi IV                     Pua’ Tipa,                                               Inrona H. Aco.

Qadhi V                      Pua’ Tipa,                                                 H. Aco

 Ma’rifah.

                                                                                                                  H. Darwis (Mantan Camat Wonomulyo)

Periode Kampung Masigi

Selama periode Kampung Masigi ini Masjid Raya telah dipimpin oleh 13 orang Qadhi, masing-masing:

  1. H. Muhammad Amin                          (1833—1836)[1]            (3 tahun lamanya)
  2. Pua’ Egong                                         (1836—1840)[2]            (4 tahun lamanya)
  3. H. Djumalang                                      (1840—1875)              (35 tahun lamanya)
  4. H. Patjo Pua’ Saenong                        (1875—1882)              (7 tahun lamanya)
  5. H. Basira’                                            (1882—1883)[3]            (1 tahun lamanya)
  6. H. Pua’ Muriba                                   (1883—1889)[4]            (6 tahun lamanya)
  7. Syekh H. Abdul Karim                       (1889—1892)[5]            (3 tahun lamanya)
  8. H. Idris                                                (1892—1894)[6]            (2 tahun lamanya)
  9. H. Muhammad Saleh                          (1894—1895)[7]            (1 tahun lamanya)
  10. H. Abdul Hamid                                 (1895—1948)[8]            (53 tahun lamanya)
  11. H. Maddappungan                              (1948—1954)[9]            (6 tahun lamanya)
  12. KH. Muhammad Zein                         (1954—1983)[10]           (29 tahun lamanya)
  13. KH. Muhammad Dahlan Hamid        (1983—Sekarang)[11]

Jakarta, 7 Desember 2003 M

13  Syawal    1424 H

Wajidi Sayadi[12]


[1] H. Muhammad Amin menjabat Qadhi selama 3 tahun lalu mengundurkan diri. Melihat masa jabatannya selama 3 tahun, maka diperkirakan masa ke-Qadhi-annya ialah 1833—1836, sebab penggantinya, yaitu Pua’ Egong mulai menjabat Qadhi tahun 1836. Dan 1836 dikurangi 3 tahun berarti 1833. Muhammad Amin terkenal dengan sebutan To Manlinrungnge suatu julukan kehormatan bagi beliau. Cucu beliau yang masih hidup sampai sekarang adalah keluarga puteri-puetri H. Mustafa Sidik, yaitu Hj. St. Nur, Hj. St. Aminah. Hj. Dr. dan termasuk M. Idrus Alwi Abbana Sima (sebagai generasi IV dari beliau).

[2] Pua’ Egong adalah murid H. Muhammad Amin sendiri.

[3] H. Basira’ melahirkan anak yaitu Yaddi, Fida, Kale, Abd Fattah, dan Niari. Abd Fattah melahirkan Ampo Djida. Jida melahirkan Rustam. (H. Basira’ → Abd Fattah → Ampo Djida → Djida → Rustam). Niari inrona Ampo  Fudu. (H. Basira’ → Niari → Subaer Ampo Fudu → Fudu Abbana Yalang).

[4] H. Pua’ Muriba melahirkan Amponan Ampo Djuba. Amponan Ampo Djuba melahirkan Djuba, Wa’ Dia istri Pak Halidda, dan Pati inrona Jawahir. (H. Pua’ Muriba → Ampona Ampo Djuba → Djuba-Wa’ Diah-Pati →Jawahir).

[5] Syekh H. Abdul Karim adalah paman dan guru H. Maddappungan yang berasal dari Belokka Sidrap.

[6] H. Idris melahirkan inrona Abbana Nawabi (H. Juhari) dan Pua’ Geteran. H. Juhari melahirkan Hj. Asiah Wa’na Yati, St. Nur Wa’na Yeni, dan Dahlan ayahnya Nur Dahlan Jerana. Pua’ Geteran melahirkan H. Muhammad Said (Kepala kampung Masigi) ayahnya Hasan Basri. (H. Idris → H. Juhari → Hj. Asiah — St. Nur – Dahlan → Nur). (H. Idris → Pua’ Geteran → H. Muhammad Said → Hasan Basri Abbana Yedi).

[7] H. Muhammad Saleh biasa dikenal dengan Puadji Kali adalah ayah H. Abdul Hamid. Atau dikenal dengan Kali Massue’ menjabat Qadhi hanya setahun, lalu ia pergi ke Pakkammisang membangun dan membina Masjid di sana.

[8] Pada era H. Abdul Hamid inilah Langgar mulai dirubah menjadi sebuah Masjid atas bekerja sama dengan Said Alwi bin Sahl Jamalullail (w. 1934) seorang ulama dari Hadramaut datang di Campalagian pada tahun 1898 M dengan dukungan penuh Karru’ Daenna Petti (Maraddia Campalagian). Pada era ini aktivitas keagamaan di Campalagian mengalami kemajuan yang pesat.

[9] Menurut Kiyai Ahmad Zein (manta Ka.KUA Kec. Campalagian), H. Maddappungan pada dasarnya tidak mau menjabat Qadhi, tapi karena sangat dibutuhkan dan hampir terpaksa sehingga beliau mau menjabat. Sebelumnya beliau Qadhi di Benuang dan penggantinya Qadhi di Benuang adalah KH. Muhammad Zein. H. Maddappungan menjabat Qadhi hanya sekitar 3—4 tahun, beliau mengundurkan diri sebelum wafat pada tahun 1954. (Wawancara pada Ahad malam 30 Nopember 2003. Hal ini berbeda dengan keterangan dari H. Muhammad Dahlan Imam Masjid Raya campalagian, menurutnya H. Maddappungan menjabat Qadhi hingga wafat. (Wawancara pada Ahad malam, 30 Nopember 2003.

[10] KH. Muhammad Zein lahir pada bulan Januari 1910 dan wafat pada hari Selasa, 18 Nopember 1988 dalam usia 78 tahun. Menurut puteranya Kiyai Ahmad Zein, Muhammad Zein pernah 2 kali menyerahkan jabatan Qadhi sementara kepada puteranya Ahmad Zein selama kurang lebih 3 tahun sekitar tahun 1962 sampai 1965 ketika beliau sakit dan merasa tidak bisa lagi memangki jabatan itu hingga wafat. Penunjukan ini setelah melalui pemilihan di antara Ahmad Zein, KH. Mahdi, H. Mahmud Yamin. Oleh karena itu, Kiyai Ahmad Zein pernah disebut Qadhi Muda. Namun setelah sehat, beliau memangku kembali jabatan itu hingga beliau tidak dapat lagi memimpin jamaah karena buta matanya, yaitu sekitar tahun 1983. Lalu selanjutnya dijabat lagi oleh Kiyai Ahmad Zein yang merangkap sebagai Ka. KUA Kec. Campalagian. Hal ini setelah melalui pemilihan dengan calon masing-masing : Ahmad Zein, KH. Mahdi, Baharuddin Muhammadiyah. Kiyai Ahmad Zein menjabat Qadhi (peralihan) sebelum terpilih Kh. Muhammad Dahlan sekitar tahun 1987. Hal ini sangat berbeda dengan keterangan KH. Muhammad Dahlan sendiri yang menurutnya, jabatan Qadhi beliau pangku setelah terpilih dalam pemilihan di antara Ahmad Zein, KH. Mahdi, dan Baharuddin Muhammadiyah pada tahun 1983 hingga sekarang.

[11] Keterangan Kiyai Ahmad Zein di atas sangat berbeda dengan keterangan KH. Muhammad Dahlan sendiri yang menurutnya, jabatan Qadhi beliau pangku setelah terpilih dalam pemilihan Qadhi di antara rivalnya Ahmad Zein, KH. Mahdi, dan Baharuddin Muhammadiyah pada tahun 1983 hingga sekarang. KH. Muhammad Dahlan lahir pada tahun 1926/1927. Menjabat sebagai Qadhi pada usia 57 tahun.

[12] Informasi tentang H. Pua’ Djamila, H. Basira’, H. Pua’ Muriba, H. Idris, H. Muhammad Saleh adalah diperoleh dari H. S. Muhammad Said (Puang Sail) yang diwawancarai pada hari Rabu, 26 Nopember 2003 di Pappang Campalagian.

Biografi Ulama Campalagian:

1.      Syekh Hasan al-Yamani

2.      Syekh Said Jamalullail

3.      KH. Abd al-Karim

4.      KH. Abd Hamid Dahlan

5.      KH. Maddappungan

6.      KH. Muhammad Zain

7.      KH. Mahmud Ismail

8.      KH. Habib Saleh

9.      KH. Mahdi Buraerah

10.  KH. Muhammadiyah

11.  KH. Abd Rahim

Lembaga Pendidikan Islam di Campalagian

1.      Yayasan Perguruan Islam (Pergis)

2.      Yayasan Pondok Pesantren Syekh Hasan Yamani

3.      Yayasan Pesantren Salafi

Komentar
  1. Elmashur mengatakan:

    Wuihhhh….!
    Alemuna Pajo
    it’s amazing…
    wonderful…!

  2. Assalamu alaikum inai to blog nee..izin cpy yach tulisannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s