Dzikrul Maut (Ingat Mati)

Posted: Oktober 25, 2012 in info islami

Oleh: Wajidi Sayadi

Dalam rangka menumbuhkan semangat dan menguatkan optimisme dalam menjalankan amanah dan tanggung jawab, Islam mengajarkan adanya keyakinan bahwa di balik dari kehidupan dunia ini ada kehidupan hakiki yang sebenarnya dan kekal yaitu kehidupan akhirat. Semua umat Islam wajib percaya dan yakin sepenuhnya akan kebenaran ini. Salah satu pintu menuju kehidupan akhirat adalah kematian. Artinya, orang tidak dapat menikmati kehidupan akhirat, kecuali kalau dia sudah mati. Oleh karena itu, mengingat akan kematian bukan untuk menghilangkan atau mematikan semangat hidup dan semangat kerja, melainkan mengingat kematian diharapkan akan menumbuhkan semangat kesadaran terhadap amanah dan tanggung jawab. Orang kalau tidak ingat mati, cenderung akan berbuat sesuka hatinya, tidak peduli persoalan halal dan haram, persoalan apakah menyakiti dan memeras orang lain, yang penting berhasil sesuai yang direncanakan. Allah SWT. mengingatkan al-Hâkumuttakâtsur hattâ zurtumul maqâbir (Saling memperbanyak kemegahan dengan maksud membaggakan diri membuat kamu lalai, sampai kamu masuk ke dalam kubur. (QS. At-Takatsur/102: 1-2). Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan Imam al-Hakim, Rasulullah SAW. menasehati kita semua: ightanim khamsan qabla khamsin: syabâbaka qabla haramika, wa sihhataka qabla saqamika, wa ghinaka qabla faqrika, wa faraghaka qabla syuglika wa hayataka qabla mautika (Perhatikanlah lima hal sebelum datang yang lima; mudamu sebelum tuamu, masa sehatmu sebelum sakitmu, masa kayamu sebelum miskinmu, masa luangmu sebelum sibukmu, dan masa hidupmu sebelum matimu. (HR. Hakim).

Dzikrul maut atau mengingat kematian bukan untuk menakut-menakuti, melainkan sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas hidup dengan cara memelihara amanah dengan baik dan benar sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain bahwa dzikrul maut (ingat mati) itu bisa efektif membuat kita seakan punya rem yang kuat untuk selalu berusaha menghindari hal-hal yang dilarang dalam ajaran Islam. Kita akan selalu terarahkan untuk melakukan segala sesuatu yang bermanfaat dan sesuai ajaran Islam. Imam Tirmidzi meriwayatkan hadis bersumber dari Syaddad bin Aus, Rasulullah SAW. bersabda: al-Kayyisu man dâna nafsahu wa ’amila limâ ba’dal maut wal ’âjizu man atba’a nafsahu hawâha wa tamanna ’alallâhi (Orang cerdas adalah orang yang selalu mengevaluasi dirinya dan mempersiapkan amal bekal setelah mati. Orang lemah adalah orang yang selalu menuruti keinginan hawa nafsunya).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s