Globalisasi Dan Tantangannya

Posted: September 27, 2011 in belum didentifikasikan, info islami, pengetahuan umum

GLOBALISASI DAN DAMPAKNYA

Abad XXI ditandai oleh proses globalisasi yang semakin kompleks. Globalisasi berasal dari kata globe artinya dunia mini, maksudnya ialah sebagai proses yang bersifat mendunia dalam kehidupan umat manusia. Proses ini berkembang karena kemajuan yang pesat dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu melintasi batas-batas geografis secara meluas. Pada awalnya lebih merupakan proses ekonomi sebagai kelanjutan dari transnasionalisasi, kemudian berkembang menjadi proses global dalam hampir segenap bidang kehidupan yang menyertai lahirnya era baru revolusi informasi dan komunikasi.

Era globalisasi sangat berpengaruh terhadap kehidupan umat manusia di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, dan dimensi kehidupan lainnya. Dengan era globalisasi ini membawa bangsa-bangsa di dunia terintegrasi dalam sebuah arus besar global, di mana tembok-tembok batas pemisah antarnegara semakin tipis, dan bahkan hampir hilang, lebih-lebih batas antardaerah. Dalam proses ini terjadi percepatan dan adopsi kemajuan antarbangsa dan peradaban secara cepat, meluas, dan kumulatif.

Globalisasi dengan muatan yang kompleks itu selain membawa arus besar kemajuan, juga telah membawa bangsa-bangsa di dunia terintegrasi dalam sebuah arus besar global, di mana tembok-tembok batas pemisah antarnegara semakin menipis dan hampi hilang, apalagi tembok-tembok batas antardaerah. Hal ini akan membuat suasana yang semakin kompetitif dalam seluruh bidang kehidupan, misalnya di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, dan sebagainya. Di era ini persaingan sangat ketat, bukan lagi saatnya dan tidak lagi relevan mengedepankan persoalan latar belakang kedaerahan, misalnya putera daerah dan nonputera daerah, latar belakang etnis, agama, dan lain-lain, tetapi yang dikedepankan adalah persoalan kemampuan dan keahlian atau profesionalitas.

Dalam ajaran Islam, sebetulnya juga sejak awal sudah mengisyaratkan perlunya profesinolitas dalam menangani suatu persoalan. Hal ini dipahami dari hadis Nabi Saw. yang diriwayatkan Muslim bersumber dari Anas bin Malik.

 

أنتم أعلم بأمر دنياكم

Artinya: “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian”.

 

Hadis ini sering disalahpahami sebagian orang, bahwa dari teks hadis ini memberi peluang adanya sekularisme dalam Islam, karena Nabi menyerahkan urusan dunia berarti memisahkan antara urusan dunia dan urusan agama. Padahal, sebetulnya inti kandungan hadis ini adalah menekankan perlunya profesionalitas itu. Hal ini dipahami dengan melihat pada latar belakang historis disabdakannya (sabab al-wurud) hadis tersebut. Pada suatu ketika Nabi lewat di hadapan para petani yang tengah mengawinkan serbuk (kurma pejantan) ke putik (kurma betina). Nabi berkomentar: “Sekiranya kamu sekalian tidak melakukan hal ini, niscaya kurmamu akan baik”. Mendengar komentar ini, para petani tidak lagi mengawinkan kurmanya. Beberapa lama kemudian, Nabi lewat lagi di tempat itu dan menegur para petani: “Mengapa pohon kurmamu itu?” Para petani menyampaikan apa yang telah dialami oleh kurma mereka, yakni banyak yang tidak jadi. Mendengar keterangan mereka itu, Nabi lalu bersabda sebagaimana bunyi teks hadis di atas.

Dengan demikian, hadis di atas menunjukkan adanya penghargaan Nabi terhadap profesional pada bidang pertanian. Dan ini tidak saja berlaku pada bidang pertanian, karena yang ditekankan di sini bukan pada kurmanya itu, akan tetapi lebih pada penguasaan pada bidang itu sendiri. Sehingga hal ini  bersifat universal, artinya seluruh bidang apa saja, harus dikerjakan secara profesinal. Oleh karena itu, hadis tersebut secara kontekstual dapat dipahami sebagai sebuah ajaran yang mengedepankan persoalan profesionalitas.

Dalam profesionalitas ini, ada 3 hal yang terkandung di dalamnya yang antara satu dengan lainnya saling terkait. 1) Mempunyai keahlian dan penguasaan pada suatu bidang tertentu dengan ditopang oleh dasar ilmu pengetahuan dan teknologi. 2) Mempunyai etika dan moral (akhlak). 3) Memberikan pelayan kepada orang lain, masyarakat, dan lingkungan. Ketiga-tiganya harus terpadu.

Menguasai dan ahli pada suatu bidang tertentu, tapi tidak mempertimbangkan persoalan moral dan etika bahkan tidak bermoral, maka itu tak dapat disebut sebagai profesional. Di Indonesia ini yang sudah dilanda multikrisis yang sampai pada detik ini belum juga berakhir dan yang paling banyak merasakan deritanya adalah rakyat kecil, itu karena disebabkan oleh banyak faktor, salahsatu di antaranya adalah banyaknya orang Indonesia ahli dan menguasai bidang, misalnya ahli ekonomi tapi mereka tidak mempunyai moral. Buktinya mereka yang banyak menyalahgunakan uang negara sehingga negara rugi dan rakyat menderita adalah bukan orang-orang bodoh, tapi orang-orang ahli. Orang-orang seperti ini tidak profesional, karena hanya ahli tapi tidak bermoral. Malapetaka dan bencana yang melanda dunia termasuk Indonesia dan di berbagai daerah adalah karena umat manusia lebih mengedepankan dan mengandalkan akal, sementara tidak atau kurang memperhatikan hatia. Padahal sumbernya akhlak, moral, dan atau etika itu adalah dari hati. Jadi, sangat wajar jika terjadi krisis moral dan kepemimpinan yang pada gilirannya akan menghancurkan bangsa itu sendiri. Para elit politik dan penguasa pemegang kendali kekuasaan dan pemerintahan cenderung lebih sibuk oleh persoalan politik, ekonomi, sosial, pertahanan, keamanan, dan sering lebih memprioritaskan pada hal-hal yang lebih menguntungkan pada kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan tertentu, bukan pada kepentingan maslahah secara keseluruhan. Dan paling ironisnya adalah kurang memperhatikan pada persoalan moralitas. Dalam Islam, salahsatu ajarannya yang sangat ditekankan adalah penegakkan moral. Islam dihormati dan disegani termasuk oleh lawan dan musuh adalaha karena penampilan akhlak itu. Bahkan ada sesuatu yang sebetulnya secara hukum dibenarkan, tapi dari segi pandangan etika belum tentu, misalnya dalam salat, yang harus ditutup hanya sebatas aurat bagi laki-laki adalah bagian lutut ke atas dan bagian pusat ke bawah. Kalau batas-batas ini sudah tertutupi, maka secara hukum salatnya sudah sah, tapi secara etika belum tentu. Karena rasanya tidaklah etis menghadap dan bermunajat dengan Tuhan dalam keadaan dan kondisi sebagian badan tidak tertutupi dan hampir telanjang.

Hal ini mengindikasikan bahwa dalam Islam penegakan moral sangat penting dan patut dikedepankan dalam berbagai dimensi kehidupan dan pembangunan bangsa dan negara. Itulah sebabnya Nabi Saw. mendeklarasikan bahwa beliau diutus Allah guna memperbaiki dan menyempurnakan akhlak.

Di samping itu, yang namanya profesional harus apa yang dimilikinya itu dapat memberikan manfaat tidak saja pada dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain, masyarakat, dan linkungannya, baik pada skala kecil maupun pada skala lebih luas dan besar seperti untuk kepentingan bangsa dan negara.

Peradaban umat manusia semakin maju dan berkembang dengan daya rambah yang sangat meluas hampir-hampir tidak terbatas. Wilayah kehidupan agama pun yang bagi pemeluk dipandang serba sakral dirambah oleh proses global ini sehingga terbuka peluang terjadinya sekularisasi. Proses ini sering disebut sebagai benturan antar budaya, benturan antar peradaban, atau benturan antar nilai. Dalam konteks agama, benturan nilai dan benturan budaya dan peradaban itu menghadapkan umat beragama dengan arus besar zaman yang membawa bendera humanisme-sekuler yang serba mendewakan kekuatan dan kemampuan manusia semata dan pragmatisme-utilitarian yang senantiasa menjunjung tinggi asas manfaat dalam kehidupan umat manusia. Kebenaran hanya ditentukan oleh otak manusia, hidup manusia hanya sebatas kini dan di sini, dan apa yang benar diukur berdasarkan pada manfaat atau tidaknya bagi kepentingan manusia, suatu ideologi yang memerosotkan manusia pada kehancuran dirinya.

Globalisasi dengan senjata teknologi informasi dan komunikasi yang serba ampuh, memang merupakan tantangan tersendiri bagi masyarakat religius. Misalnya, keluarga yang merasa taat beragama dengan norma seleksi yang ketat atas nilai-nilai luar yang dipandang bertentangan dengan agamanya, harus terpaksa bertempur melawan proses global yang dibawa oleh program-program acara televisi. Seorang ustadz dan kiyai yang tak pernah bersentuhan dengan dunia luar, terpaksa akan berhadapan dengan sederet program televisi yang menayangkan pornografi, kekerasan, dan eksploitasi seks melalui film-film layar kaca itu secara bebas sehingga realitas luar yang bersifat kemungkaran dibawa ke dalam realitas internal pak ustadz dan kiyai tanpa untuk kuasa untuk menolaknya. Masyarakat yang ketat akan norma-norma sosial dan agama, akan menjadi tidak begitu peduli dan terpaksa menerima daerahnya menjadi pusat pariwisata yang menjual pergaulan bebas sebagai konsekwensi dari proses industri pariwisata yang mendunia. Penduduk desa dan masyarakat terisolasi menjadi hidup dalam keseragaman dengan mencontoh model kehidupan masyarakat negara maju, sehingga mereka tercerabut dari akar bidayanya yang selama ini dipegangnya erat-erat. Itulah ironi dari proses globalisasi. Proses globalisasi ini ibarat air bah yang meranbah ke segenap sumsum dan wilayah kehidupan umat manusia, sehingga tak ada celah sedikit pun yang bebas dari jangkauannya.

Dalam mengantisipasi dan merespon secara proaktif terhadap proses globalisasi ini, umat beragama dituntut untuk mampu memberikan akses bagi proses seleksi nilai dan rehumanisasi kebudayaan. Pada level seleksi nilai, umat beragama dapat menjadi teladan bagaimana menampilkan sebuah contoh kehidupan yang bermoral di tengah arus pergeseran nilai saat ini. Pada proses rehumanisasi kebudayaan, bagaimana umat beagama menjadikan agama yang dipeluknya sebagai nilai aktual bagi bangunan kebudayaan masyarakat luas ketika proses sekularisasi tengah merambah dalam hampir seluruh aspek kehidupan.

Umat beragama dituntut untuk mempunyai ketahanan yang cukup kuat dalam alam yang serba global itu. Hal itu selain untuk menangkal akibat yang tidak dikehendaki sekaligus untuk merespon secara proaktif atas proses global dengan segala pengaruhnya yang datang  dari budaya luar itu. Proses globalisasi ini menuntut untuk selain melakukan antisipasi atas perubahan-perubahan yang cepat itu juga dituntut mengelola perubahan-perubahan itu ke arah yang diinginkan. Lebih jauhlagi, umat beragama dituntut untuk memberi corak bagi pembangunan masyarakat di tengah arus lintas nilai yang sarat dengan pertarungan, sehingga peradaban abad ke- 21 menjadi peradaban adiluhung yang menjamin keselamatan umat manusia sejagat sesuai dengan nilai-nilai agama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s