Amal Utama Dalam Islam

Posted: September 27, 2011 in belum didentifikasikan

PINTU-PINTU MENUJU KEUTAMAAN

Oleh: Wajidi Sayadi

Ketika Nabi SAW. ditanya oleh sekelompok orang, اي العمل افضل ؟ (amal apakah yang paling mulia?) Beliau menjawab:

إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُورٌ (البخارى 26 مسلم 83 عن ابى هريرة)

Dalam kesempatan yang berbeda, beliau ditanya lagi oleh para sahabat, اي العمل افضل ؟  (amal apakah yang paling mulia?) Beliau menjawab:

الصَّلاَةُ عَلَى مِيقَاتِهَا قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَسَكَتُّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي (البخارى 2782 عن عبد الله بن مسعود)

Para sahabat bertanya, اي الإسلام افضل ؟ (amal apakah yang paling mulia dalam Islam?) Beliau menjawab:

مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ (البخارى 11 ومسلم 42والنسائى 4999 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو)

Para sahabat bertanya, amal apakah yang paling mulia? Beliau menjawab:

الْحُبُّ فِي اللَّهِ وَالْبُغْضُ فِي اللَّهِ (ابو داود 4599 عَنْ أَبِي ذَرٍّ)

Ada seseorang sahabat yang bertanya, اي الإسلام خير ؟ (amal apakah yang terbaik dalam Islam?) Beliau menjawab:

تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ (البخارى 12 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو)

Para sahabat bertanya, اي الأعمال احب الى الله ؟ (amal apakah yang paling disenangi Allah?) Beliau menjawab:

أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ وَقَالَ اكْلَفُوا مِنْ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ (البخارى 6465 عَنْ عَائِشَةَ)

Seorang sahabat yang bernama Jariyah bin Qudamah berkata kepada Rasulullah, Ya Rasul katakanlah kepadaku suatu perkataan yang sangat bermanfaat kepadaku dan membuat aku bisa memelihara diriku! Beliau menjawab:

لاَ تَغْضَبْ فَأَعَادَ عَلَيْهِ مِرَارًا كُلُّ ذَلِكَ يَقُولُ لاَ تَغْضَبْ (احمد 15534 عَنِ الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ)

Setiap kali bertanya, apa lagi? Beliau bersabda lagi: لاَ تَغْضَبْ

Seorang sahabat yang bernama Sufyan al-Tsaqafi berkata kepada Rasulullah SAW., beritahukanlah kepadaku suatu amal dalam Islam yang membuat aku tidak perlu lagi bertanya kepada yang lain! Beliau menjawab:

اتَّقِ اللَّهَ ثُمَّ اسْتَقِمْ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ شَيْءٍ قَالَ فَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِ (الدارمى 2710 عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ)

Kemudian apa lagi? Beliau menunjuk kepada lidahnya, maksudnya jagalah lidahmu.

Pertanyaan yang satu dan hampir sama semua, namun Nabi SAW. memberikan jawaban yang berbeda-beda. Apakah ini menunjukkan bahwa Nabi SAW. tidak konsisten? Sama sekali tidak. Bahkan justru kita bisa mengambilnya sebagai pelajaran, di antaranya:

1. Ini membuktikan bahwa Nabi SAW. sangat bijaksana. Nabi SAW. bersabda dan berbuat didasari pertimbangan kondisi psikologis dan sosiologis terhadap umat atau masyarakat yang dihadapi.

Nabi SAW. menjawab: Beriman, berjihad, dan berhaji mabrur. Sebab mereka yang bertanya adalah orang-orang yang baru masuk Islam, yaitu suku dari Bani Khats`am.

Nabi SAW. menjawab: Shalat tepat pada waktunya, berbuat baik pada orang tua, dan berjihad. Ini boleh jadi, karena yang bertanya atau orang yang ada di sekitarnya adalah orang yang kurang memperhatikan waktu shalat. Ia selalu shalat ketika waktunya sudah hampir habis. Begitu juga kurang memperhatikan kedua orang tuanya.

Nabi SAW. menjawab: memberi makan dan menyebarkan salam (perdamaian), sebab boleh jadi yang bertanya adalah orang yang kikir dan kurang peduli sosial.

Nabi SAW. menjawab: supaya menahan lidah dan tangannya, sebab boleh jadi karena mereka sering mengganggu orang lain dengan mencaci maki dan memukul atau mengambil hak orang lain secara batil..

Nabi SAW. menjawab: beribadah secara berkesinambungan walaupun sedikit, sebab boleh jadi mereka adalah orang suka bosan-bosanan, hari ini ia lakukan, besok tidak lagi, dan begitulah seterusnya.

Nabi SAW. menjawab: Jangan marah, sebab orang yang bertanya adalah orang yang pemarah. Ia berulang-ulang bertanya, apa lagi ya Rasul? Beliau selalu menjawab, jangan marah.

Nabi SAW. menjawab: cinta dan benci hanya karena Allah, sebab boleh jadi yang bertanya adalah orang yang tidak ikhlas.

Nabi SAW. menjawab: bertakwa dan konsisten, sebab boleh jadi yang bertanya adalah mereka yang tidak punya pendirian dan penegasan dan senang mengumbar kata yang tidak baik. Jadi, Nabi SAW. sangat bijaksana, beliau menyampaikan sabda atau perbuatannya dengan pertimbangan psikologis, situasi, dan kondisi. Terkadang kita bijaksalah, sebab menyampaikan tujuan dan maksud yang baik, tapi waktu dan caranya tidak benar, sehingga gagal dan tidak tercapai. Jadi, ada sesuatu yang baik, tapi tidak benar, karena persoalan waktu dan caranya.

2. Salah satu metode atau cara dalam memahami hadis Nabi SAW. adalah pendekatan sosiologis, artinya dalam melihat teks sebuah hadis kita tidak boleh hanya memahaminya semata-mata berdasarkan pada teks tulisannya saja, akan tetapi perlu memperhatikan situasi dan kondisi pada saat hadis itu diucapkan serta apa tujuan diucapkannya, sebagaimana hadis-hadis tersebut di atas. Demikian juga, hadis riwayat dari Ibnu Umar, bahwa Nabi SAW. shalat sunat usai maghrib, isya, dan jumat masing-masing 2 rakaat dilakukan di rumahnya. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad). Hal ini harus dipahami sejarahnya, sebab rumah Nabi SAW. dengan masjid adalah sangat dekat, bahkan dikatakan berdempetan, sehingga Nabi SAW. keluar hanya melangkah beberapa kali saja. Akan tetapi, kalau kita yang rumahnya berjauhan dengan masjid, ditambah lagi dengan banyaknya hambatan dalam perjalanan antara rumah dan masjid begitu juga keadaan di rumah mungkin banyak gangguan yang merusak kekhusyuan dalam shalat. dalam kondisi seperti ini, tentu saja shalat sunat di masjid tetap lebih baik.

3. Ajaran Islam sangat luas cakupannya dan bersifat universal. Islam ini tidak hanya mengajarkan doktrin tentang bagaimana beriman, akan tetapi Islam ini harus dibuktikan dengan aktualisasi nyata dalam kehidupan riil berupa memberi makan, menciptakan suasana kondusif yang membuat orang lain aman dan selamat karena tidak saling menganggu antara satu dengan lainnya.

4. Islam sangat menghargai keragaman (pluralitas) dan perbedaan dalam mengamalkan ajaran Islam. Seorang guru dalam berIslam, silakan mengajarkan ilmunya. Seorang pedagang dalam berislam, silakan berdagang dengan baik dan benar. Seorang petani dalam berislam, silakan bekerja dengan tekun.

4. Ajaran Islam ini, tidak saja pada keimanan dan ibadah seperti shalat tepat pada waktunya, akan tetapi juga mengatur bagaimana berakhlak dan berhubungan dengan sesama dalam kehidupan sosial kemanusiaan. Misalnya berakhlak kepada kedua orang tua dengan berbuat baik kepada keduanya, dan tidak mengganggu orang lain dengan cara menahan amarah, menjaga lidah untuk selalu berkata-kata secara sopan dan santun, serta menjaga tangan untuk tidak mengambil hak yang bukan miliknya.

5. Ajaran Islam tidak memberatkan, tapi justru meringankan dan menyenangkan. Islam mengajarkan supaya melakukan aktivitas keagamaan ini jangan memaksakan diri, tetapi sesuai dengan kemampuan dan kesempatan dengan catatan tetap berkesinambungan walaupun sedikit.

6. Islam mengajarkan supaya ada pendirian yang tegas dan konsisten terhadap ajaran Islam.

7. Islam mengajarkan supaya mampu mengendalikan diri, tidak marah seenaknya tanpa perhitungan. Pemarah berarti marah bukan pada waktu dan tempatnya. Marah secara baik dan benar, yakni karena ada pelanggaran terhadap ajaran prinsip dalam beragama. Seperti ketika ada yang merusak agama, nyawa, akal, keturunan, dan harta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s