Cara Cerdas Memahami Hadis

Posted: September 27, 2011 in belum didentifikasikan

Memahami hadis Nabi SAW. tidak hanya persoalan, apakah hadis itu sahih atau daif atau maudhu’ (palsu). Akan tetapi termasuk penting adalah bagaimana hadis itu dapat dipahami dengan baik dan benar sehingga dapat diamalkan dan diaktualisasikan dalam realitas kehidupan. Walaupun hadis itu sahih, tapi karena pemahamannya kurang tepat, maka bisa berdampak buruk.

Misalnya hadis bahwa Nabi SAW. berdoa:

اللهم أحيني مسكينا وأمتني مسكينا واحشرني في زمرة المساكين

أخرجه ابن ماجه والحاكم وصححه من حديث أبي سعيد والترمذي من حديث عائشة وقال غريب

Ya Allah! Hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah bersama orang-orang miskin di hari kemudian. (Ibnu Majah dan Hakim dari Abu Said al-Khudri).

Hadis ini kualitasnya sahih. Dengan pembacaan terhadap hadis tersebut secara literal dan tekstual, spirit untuk hidup kaya menjadi lemah. Membiarkan diri hidup dalam keadaan miskin. Ini namanya paham yang kurang tepat.

Padahal, kata “miskin” dalam hadis tersebut adalah tawadhu’ atau rendah hati lawan dari takabbur.

Oleh karena itu, perlu cara “cerdas” memahami hadis. Ada beberapa hal yang harus di pahami;

1.    Siapa yang mengutus Nabi SAW. ?

2.    Siapa Nabi SAW.

3.    Bagaimana lingkungan masyarakat Nabi SAW.?

4.    Bahasa apa yang digunakan Nabi SAW.?

Salah satu kelebihan Nabi Muhammad SAW. adalah dalam proses perjalanan kehidupannya ditopang oleh kekuatan eksternal berupa intervensi wahyu dari Allah SWT. Namun demikian,  sifat-sifat kemanusiaannya tidak terhapus sehingga boleh jadi situasi lingkungan sosial dan budaya serta tradisi sebagai tempat ia hidup dan dibesarkan akan berpengaruh terhadap diri dan kepribadiannya. Oleh karena itu, memahami situasi dan kondisi sosio-kultural yang melingkupi seluruh proses perjalanan kehidupan Nabi SAW. merupakan suatu keharusan dan tuntutan yang sangat urgen dan signifikan dalam rangka memahami hadis Nabi SAW. secara akurat dan valid. Karena seluruh hasil dari proses perjalanan kehidupannya yang terkoleksi dalam bentuk ucapan, perbuatan, takrir, serta sifat-sifat perilaku keseharian adalah hadis.

Dalam mitos Yunani Kuno, dikenal Hermes seorang Dewa yang ditugaskan untuk menyampaikan, menerjemahkan, dan menafsirkan pesan dari Tuhan yang menggunkan bahasa “langit” agar bisa dipahami oleh manusia yang menggunakan bahasa “bumi”. Berasal dari kata “Hermes” inilah muncul hermeneutika, sebuah ilmu dan seni dalam menafsirkan teks. Dalam menafsirkan sebuah teks dengan menggunakan metode hermeneutika akan mengacu pada tiga variabel utama, yaitu pengarangnya, teksnya, dan pembacanya. “Meminjam” istilah dan metode seperti ini, maka dalam menafsirkan sebuah teks hadis juga dapat diterapkan metode hemeneutik ini dengan mengacu pada paling tidak, tiga variabel pokok, yaitu 1) sumber hadis, yakni Nabi SAW. sendiri, 2) teks bahasa yang digunakan dalam mengucapkan hadis, dan 3) latar belakang historis sosial atau situasi dan kondisi pada saat hadis itu diucapkan atau diperbuat.

1.  Sumber hadis.

Sumber hadis yang dimaksudkan adalah Nabi SAW. sendiri. Artinya, kita harus mengetahui kepribadian dan keberadaan serta kapasitas Nabi SAW. ketika mengucapkan atau melakukan suatu perbuatan yang dikategorikan sebagai hadis. Oleh karena itu, dalam kaitannya Nabi SAW. sebagai sumber hadis, di sini akan dikemukakan keberadaan dan kapasitas beliau ketika melakukan suatu perbuatan, pengucapan, atau takrir  yang kemudian dikenal sebagai suatu hadis.

a.    Dalam kapasitasnya sebagai Rasul yang bertugas tabligh, menyampaikan risalah dan menjelaskan wahyu dalam al-Qur’an kepada umat, menjelaskan tentang  aqidah, ibadah, akhlak, halal dan haram. Apa yang dilakukan ini dalam kapasitasnya sebagai Rasulullah SAW. penyampai risalah yang berlaku secara universal hingga hari kiamat. Sesuatu yang diperintahkan ini harus ditaati, dan sebaliknya sesuatu yang dilarang, harus dijauhi. Dalam pengertian inilah yang dimaksudkan firman Allah dan hadis Nabi SAW. berikut ini:

وَماَآتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَماَنَهَاكُمْ عَنْهُ فاَنْتَهُواْ

“Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa saja yang dilarangkan kepadamu, maka tinggalkanlah.” (QS. al-Hasyr/59: 7).

وَماَ يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى اِنْ هُوَ اِلاَّ وَحْيٌ يُوْحَى

“Dan tiadalah yang diucapkan itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.”  (QS. an-Najm/53: 3).

Nabi SAW. bersabda:

مَنْ اَحْدَثَ فِى اَمْرِناَ هَذاَ ماَ لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat sesuatu hal baru dalam agama ini yang tidak ada bersumber dari agama ini, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah bersumber dari Aisyah).

b.    Dalam kapasitasnya sebagai imam, pemimpin publik bagi masyarakat Islam, atau pemerintah; misalnya mengirim pasukan tentara untuk berperang, mengatur strategi politik dan organisasi, membelanjakan harta Bait al-Mal, membagi harta rampasan perang, mengikat perjanjian, strategi pencapaian kemaslahatan masyarakat, dan hal-hal lain yang menjadi urusan pemimpin sebagai penentu garis-garis kebijakan bagi yang dipimpinnya.

Apa yang telah dilakukan Nabi SAW. ini dalam kapasitasnya sebagai pemimpin publik adalah sebagai hadis tidak berlaku secara umum sehingga tidak boleh dilakukan dan ditiru oleh setiap orang secara spontanitas dengan alasan mencontoh kepada perbuatan Nabi SAW., kecuali ada izin dari pemimpin publik dalam hal ini adalah pemerintah. Karena Nabi SAW. bertindak selaku pemimpin publik atau pemerintah ketika melakukannya.

Misalnya hadis Nabi SAW.

مَنْ اَحْياَ اَرْضاً مَيْتَةً فَهِيَ لَهُ   

“Barangsiapa menggarap tanah yang mati (tidak bertuan), maka tanah itu menjadi miliknya.”  (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad, dan Nasai bersumber dari Urwah ibn Zubair).

Ulama berbeda pendapat dalam memahami hadis ini, apakah ia disabdakan Nabi SAW. dalam kapasitasnya sebagai penyampai risalah dan pemberi fatwa sehingga berlaku secara umum siapa saja yang menggarap tanah atau lahan yang tidak bertuan, maka ia dapat memilikinya tanpa perlu izin dari pihak pemerintah. Imam Syafi`i dan Ahmad ibn Hambal berpendapat seperti ini. Atau hadis ini disabdakan Nabi SAW. dalam kapasitasnya sebagai imam atau pemerintah, sehingga seseorang tidak boleh menggarap tanah yang tidak bertuan dan memilikinya kecuali ada izin dari pihak imam atau pemerintah. Pendapat ini dipegang oleh Abu Hanifah.

c.  Dalam kapasitasnya sebagai hakim atau qadhi yang memberikan vonis atau kata putus dalam menangani suatu perkara dengan berdasarkan pada bukti-bukti, sumpah, atau pengingkaran. Apa yang dipraktekkan oleh Nabi SAW. ini, juga termasuk hadis yang tidak berlaku secara umum. Oleh karena itu, siapa pun tidak boleh melakukan suatu perbuatan seperti yang dicontohkan Nabi SAW. di atas dengan inisiatif pribadi sendiri, akan tetapi ia harus meminta keputusan dari pengadilan, karena Rasulullah SAW. melakukan hal itu dalam kapasitasnya sebagai hakim. Dalam konteks sekarang, jika seseorang menemukan masalah yang sama, ia juga harus meminta keputusan dari hakim melalui pengadilan. Begitu juga, jika seseorang mempunyai hak pada orang lain dengan didukung oleh bukti-bukti yang lengkap, kemudian orang lain itu menolak untuk mengembalikannya, maka ia hanya boleh mengambil kembali haknya itu dengan berdasar keputusan pengadilan, tidak dengan cara merebutnya sendiri. Jika ada seseorang yang mencuri, merampok, memperkosa, membunuh, atau melakukan pelanggaran-pelanggaran lainnya, maka tidak boleh setiap orang menghukum atau menghakimi mereka dengan alasan mencontoh kepada Nabi SAW.  yang pernah memberi hukuman terhadap pelaku pelanggaran tersebut, sebab Nabi SAW. bertindak dalam kapasitasnya sebagai hakim. Jadi, mereka harus menyerahkannya kepada hakim atau yang berwewenang.

d.  Dalam kapasitasnya sebagai manusia biasa yang melakukan suatu tindakan dan perbuatan secara spontanitas, didorong oleh tuntutan naluri manusiawi, tradisi, kebiasaan, pengalaman, dan lain-lain. Dalam hadis Shahih al-Bukhari diriwayatkan bersumber dari Jabir ibn Abdullah, bahwa ayah kandung Jabir bernama Abdullah ibn `Amr ibn Haram meninggal dunia dan ia mempunyai hutang. Kemudian Jabir berbicara mengusulkan kepada Rasulullah SAW. agar meminta kepada orang-orang yang menghutangi ayahnya agar membebaskannya dari hutang-hutangnya itu. Rasulullah SAW. kemudian meminta kepada mereka untuk menuruti keinginan Jabir tersebut, namun ternyata mereka menolak permintaan Rasulullah SAW. untuk membebaskan hutang-hutang ayahnya Jabir. Jabir berkata, ketika Rasulullah SAW. berbicara kepada mereka tentang hal itu, seakan-akan mereka merasa ditipu oleh saya.” Kaum muslimin tidak ada mencela mereka yang menolak permintaan Rasulullah SAW., karena beliau lakukan bukan dalam kapasitasnya sebagai Rasul penyampai risalah yang berwujud syariat yang mesti diikuti dan ditaati.

Muslim dan Ahmad meriwayatkan yang bersumber dari Ibnu Abbas, Nabi SAW. bersabda tentang Mu`awiyah: “ لاَ أَشْبَعَ اللهُ بَطْنَهُ (Semoga Allah tidak mengenyangkan perutnya, maksudnya perut Mu`awiyah). Lebih jauh Ibnu Abbas menerangkan bahwa, aku sedang bermain dengan anak-anak, lalu Rasulullah SAW. datang, maka aku bersembunyi di balik pintu. Kemudian beliau menepuk pundakku dengan keras dan bersabda, إِذْهَبْ وَادْعُ لِىْ مُعَاوِيَةَ  (pergi dan panggilkan kemari Mu`awiyah!) Lalu aku mendatangi Mu`awiyah, sesudah itu aku kembali kepada Rasulullah SAW. menyampaikan bahwa Mu`awiyah masih sedang makan. Beliau kembali bersabda, إِذْهَبْ وَادْعُ لِىْ مُعَاوِيَةَ (pergi dan panggilkan kemari Mu`awiyah!). Aku segera mendatangi Mu`awiyah dan kemudian aku kembali kepada Rasulullah SAW. melapor bahwa Mu`awiyah masih sedang makan. (Mendengar laporan itu) beliau bersabda لاَ أَشْبَعَ اللهُ بَطْنَهُ (Semoga Allah tidak mengenyangkan perutnya).

Mengenai hadis dan ucapan Nabi SAW. seperti ini diinterpretasikan oleh banyak ulama dengan bervariasi. Di antaranya oleh Syekh Nashiruddin al-Albani, bahwa hal itu mungkin terjadi karena didorong oleh sifat kemanusiaan beliau.[1]

Dalam kapasitasnya sebagai manusia biasa ketika bersabda inilah yang dimaksudkan oleh hadis:

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَرْضَى كَمَا يَرْضَى الْبَشَرُ وَأَغْضَبُ كَمَا يَغْضَبُ الْبَشَرُ

Bahwa aku adalah manusia biasa, dapat merasa gembira seperti manusia biasa lainnya, dan dapat juga marah seperti manusia biasa juga”. (HR. Muslim dari Ummu Sulaim).

اِنَّماَ اَناَ بَشَرٌ اِذاَ اَمَرْتُكُمْ بِشَيْئٍ مِنْ دِيْنِكُمْ فَخُذُوْا بِهِ وَ اِذاَ اَمَرْتُكُمْ بِشَيْئٍ مِنْ رَأْيِى فَإِنَّماَ اَناَ بَشَرٌ

“Aku hanyalah seorang manusia. Maka jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian tentang masalah agama kalian, maka ikutilah. Dan jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian berdasarkan pendapatku, maka Aku hanyalah seorang manusia.”  (HR. Muslim bersumber dari Rafi’ ibn Khadij).

Bukhari, Muslim, dan Ahmad meriwayatkan bersumber dari Abdullah ibn Zaid bahwasanya dia telah melihat Rasulullah SAW. berbaring di dalam masjid sambil meletakkan kaki yang satu di atas kakinya yang lain. Apa yang dilakukan Nabi SAW. ini dalam kapasitasnya sebagai manusia biasa sehingga tidak menjadi suatu ketetapan syariat yang wajib diikuti.

Pengklasifikasian mengenai kapasitas Nabi SAW. dalam melakukan sesuatu sebagai Rasul, pemimpin politik, hakim, dan pribadi sebagai manusia biasa dan keturunan orang Arab seperti yang telah dikemukakan di atas adalah dikemukakan oleh Ibnu Qutaibah (276 H), al-Qarafi (684 H), Ibnu al-Qayyim (751 H/1350 M), Syah Waliullah al-Dahlawi (1176 H), Rasyid Ridha (1935), Mahmud Syaltut, Abd al-Mun`im an-Namr, Muhammad Tahir ibn Asyur, dan Yusuf al-Qardhawi. Apa yang dikemukakan oleh para tokoh dan ulama tersebut di atas khususnya mengenai perbuatan dan ucapan Nabi SAW. dalam kapasitasnya sebagai Rasul, hakim, pemimpin politik, atau manusia biasa sehingga ada yang berdimensi syariat yang bersifat mutlak dan universal, dan ada yang tidak berdimensi syariat yang bersifat lokal dan temporal. Pengklasifikasian seperti ini adalah karena mereka lebih beroerientasi pada pembicaraan aspek hukum, artinya mereka memandang perbuatan Nabi SAW. itu dalam kaitannya dengan hukum. Dalam pandangan faqih, ahli hukum bahwa yang dinamakan sunnah atau hadis adalah hanya perbuatan dan ucapan Nabi SAW. yang bernuansa dan berkaitan dengan hukum saja. Mereka menilai bahwa pribadi Nabi SAW. itu sebagai sumber hukum dan syariat. Dan ini berbeda dengan kalangan muhaddis, ahli hadis yang menurut mereka bahwa apa saja yang dilakukan Nabi SAW. itu adalah hadis yang sama dengan sunnah, baik berkaitan dengan hukum atau pun tidak, baik ketika sebelum dilantik jadi Nabi SAW. maupun sesudahnya semuanya patut diikuti.  Hal ini karena mereka memandang pribadi Nabi SAW. sebagai uswatun hasanah, teladan dan contoh yang baik.

Oleh karena itu, yang jelas bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi SAW. tersebut di atas adalah bersifat al-irsyad atau tuntunan atau anjuran sehingga mencontoh terhadap perbuatan Nabi SAW. di atas adalah tetap dinilai lebih baik selama masih memungkinkan dilakukan, karena mencontoh itu berarti suatu bentuk ungkapan rasa cinta kepada Nabi SAW. dan ini akan bernilai ibadah.

Hadis Nabi SAW. yang disampaikan dalam bentuk perilaku dan sikap serta sabda umumnya adalah dilakukan dalam kapasitasnya sebagai Rasul pembawa risalah syariat yang mesti diikuti kalau dalam bentuk perintah dan dihindari kalau dalam bentuk larangan. Nabi SAW. dalam kapasitasnya sebagai Rasul yang membawa syariat kepada umat untuk membimibng mereka menuju pada jalan keselamatan dan kebahagiaan di akhirat kelak dengan berpedoman kepada al-Qur’an. Hadis yang bersumber dari Nabi SAW. tidak mungkin bertentangan dengan al-Qur’an, karena ia merupakan pedoman yang dibawa oleh Nabi SAW. sendiri. Aisyah pernah meriwayatkan, bahwa ia pernah ditanya, bagaimana akhlak Nabi SAW. itu? Beliau menjawab: “Akhlak Nabi SAW. itu adalah al-Qur’an.” Oleh karena itu, salah satu standar pokok dan utama yang digunakan dalam upaya memahami hadis Nabi SAW. adalah memahaminya sesuai dengan kerangka petunjuk al-Qur’an itu sendiri.

2.        Bahasa hadis.

Bangsa Arab sangat terkenal dengan kemampuan dan penguasaan bahasa dan sastra atau balaghahnya, misalnya menggunakan bahasa kiasan  (majazi), tamsil, perumpamaan, metafora, isti`arah, atau kinayah, dan lain-lain. Sebagai kelahiran bangsa Arab yang hidup dan dibesarkan di tengah-tengah mereka yang tinggi penguasaan ilmu bahasa dan sastra, maka redaksi bahasa yang digunakan dalam hadis, selain menggunakan bentuk yang bermakna hakikat (denotatif) dan ada  juga yang menggunakan bahasa tamsil, metafora, majazi atau kiasan, isti`arah, kinayah, simbolik, analogis, dialogis, dan lain-lain.

Rasulullah SAW. pernah bersabda kepada isteri-isterinya:

اَسْرَعُكُنَّ لُحُوْقاً بِى اَطْوَلُكُنَّ يَداً (رواه مسلم)

 “Yang paling cepat menyusulku (sepeninggalku) nanti di antara kalian adalah yang paling panjang tangannya.” Mereka para isteri Nabi SAW. Ummahat al-Mukminin mengira bahwa yang dimaksud oleh beliau adalah secara fisik yang benar-benar tangannya paling panjang, sehingga mereka saling mengukur siapa di antara mereka yang paling panjang tangannya. Padahal, sesungguhnya bukan itu yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW. “Tangan yang paling panjang” yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW. adalah yang paling banyak kebaikan dan kedermawanannya.” (HR. Muslim bersumber dari Aisyah).

Dan itulah yang benar-benar terbukti kemudian. Di antara isteri-isteri beliau, Ummahat al-Mukminin yang paling cepat meninggal dunia menyusuli Nabi SAW. adalah Zainab binti Jahsy. Ia dikenal sebagai seorang perempuan yang sangat terampil, bekerja dengan kedua tangannya sendiri, lalu ia menyedekahkan hasil-hasil kerjanya.

Begitu juga hadis yang diriwayatkan ath-Thabarani.

لأَنْ يُّطِعْنَ اَحَدُكُمْ بِمُخِيْطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ مِنْ اَنْ يَّمُسَّ امْرَأَةً لاَتَحِلُّ لَهُ    (رواه الطبرانى)

“Sungguh lebih baik bagi seseorang di antara kalian ditusuk jarum besi dari pada ia menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani).

Ada yang menjadikan hadis tersebut sebagai dalil secara mutlak yang mengharamkan pria berjabat tangan dengan perempuan, karena mereka memahami kata اَنْ يَمُسَّ  (menyentuh) dalam hadis tersebut di atas dalam arti denotatif, arti hakikat yang sebenarnya, yaitu persentuhan antar kulit dengan kulit secara biasa. Padahal, kata اَنْ يَمُسَّ  (menyentuh) dalam teks hadis di atas adalah ungkapan majazi, arti kiasan, maksudnya ialah berhubungan seksual. Dengan demikian, yang dilarang dalam hadis di atas adalah berhubungan seksual dengan perempuan yang tidak halal baginya. Ditusuk dengan jarum besi yang panas adalah jauh lebih baik dari pada berhubungan seksual dengan perempuan yang tidak halal baginya (berzina).

Pemahaman secara majazi atau kiasan seperti ini juga didapati dalam bahasa al-Qur’an, misalnya:

يَآاَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُواْ اِذاَ نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِناَتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوْهُنَّ مِنْ قَبْلِ اَنْ تَمَسُّوْهُنَّ فَماَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّوْنَهاَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu menyentuhnya, maka sekali-kali tidak wajib atas mereka iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya.” (QS. al-Ahzab/33: 49).

Kata اَنْ تَمَسُّوْهُنَّ  (menyentuh mereka) dalam ayat ini, bukan dalam arti sebenarnya “menyentuh antar kulit dengan kulit seperti biasa”, tetapi dipahami dalam arti majazi atau kiasan, yakni berhubungan seksual. Dalam ayat lain diungkapkan:

قَالَتْ رَبِّ اَنَّى يَكُوْنُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِى بَشَرٌ

 “Maryam berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki.” (QS. Ali Imran/3: 47).

Kata يَمْسَسْنِي  (aku disentuh) dalam ayat ini juga dalam arti majazi atau kiasan. Maksudnya ialah aku belum pernah berhubungan seksual.

Ketika Muawiyah ibn Jahimah as-Salamy datang kepada Rasulullah SAW. memberikan bai’atnya (janji setia) untuk ikut berjihad bersama Rasul, sementara ia meninggalkan ibunya yang sangat memerlukan santunan dan pemeliharaannya, maka Rasulullah SAW. bersabda kepadanya:

فَالْزَمْهَا فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا

“Tinggallah bersama ibumu, sebab surga berada di bawah kedua telapak kakinya.” (HR. Ahmad dan Nasai bersumber dari Muawiyah ibn Jahimah as-Salamy).

Ini juga menggunakan bahasa majazi atau kiasan, maksudnya ialah berbakti kepada ibu dan bersikap tulus dalam menyantuni dan merawatnya. Berbakti dengan menyantuni dan merawat ibu merupakan pintu menuju surga. Kualitas hadis ini adalah sahih. Berbeda dengan hadis yang populer selama ini, yaitu:

اَلْجَنَّةُ تَحْتَ اَقْدَامِ الأُمَّهَاتِ مَنْ شِئْنَ اَدْخَلْنَ وَمَنْ شِئْنَ اَخْرَجْنَ

Surga ada di bawah telapak kaki ibu-ibu. Barangsiapa dikehendakinya maka dimasukkannya dan barangsiapa yang dikehendakinya maka ia akan dikeluarkannya.”

Riwayat ini dimasukkan oleh Al-‘Uqaili (323 H) dalam kumpulan hadis-hadis lemah dalam bukunya Al-Dhu’afa. Sedang menurut Nashiruddin Albani hadis ini adalah maudhu’ atau palsu.

Demikian juga dengan hadis yang diriwayatkan imam Muslim yang bersumber dari Abu Hurairah, Nabi SAW. bersabda:

فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ إِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ

“Sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan Tulang rusuk pada bagian atasnya bengkok, jika engkau meluruskannya akan membuatnya patah. Dan jika engkau membiarkannya akan bengkok selamanya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Banyak ulama bahkan mayoritas memahami hadis ini dengan berpegang pada makna lahiriah dan tekstualnya sehingga terkadang perempuan diposisikan secara terpojok karena ia merupakan sub-ordinasi atau bagian dari laki-laki. Tulang rusuk yang bengkok yang dimaksudkan dalam hadis di atas adalah sebagai ungkapan simbolik mengenai sifat-sifat negatif yang dimiliki oleh seorang perempuan.  Perempuan yang dimaksudkan dalam hadis ini, bukanlah pengertian perempuan secara umum, tetapi yang dimaksud ialah isteri. Hadis ini disabdakan Nabi SAW. dalam konteks cara menyikapi perempuan, khususnya isteri yaitu dengan bahasa kelembutan, sebab dia mempunyai watak dan sifat-sifat dasar yang bengkok atau negatif, kalau dia disikapi dengan keras, maka akibatnya fatal bisa pecah dan berantakan yang berujung pada perceraian dalam sebuah rumah tangga. Akan tetapi, kalau dibiarkan tidak ditegur dan dinasehati, maka sifat-sifat negatifnya yang bengkok itu sulit akan berubah. Jadi, tulang rusuk yang bengkok adalah ungkapan bahasa metafora atau tamsil, perumpamaan mengenai sifat-sifat yang dimiliki oleh seorang perempuan.

Ada sebagian kalangan yang lancang memvonis bahwa hadis tersebut adalah tidak dapat diterima karena bertentangan dengan al-Qur’an dan berbau israiliyat, karena ada kesesuaian dengan apa yang terdapat dalam kitab Injil dan Taurat. Pandangan ini sangat tidak cerdas, tapi sangat ceroboh. Sebetulnya, bukanlah al-Qur’an dan hadis yang bertentangan, akan tetapi justru cara pemahaman dan penafsiran kita dengan al-Qur’an dan hadis itu yang bertentangan. Kesesuaian dengan apa yang terdapat dalam Injil dan Taurat bukanlah ukuran dasar penolakan terhadap isi kandungan hadis Nabi Saw. yang sangat jelas kesahihannya khususnya dari segi sanad. Timbulnya sikap penolakan seperti ini, karena mereka melihat dan memahami hadis terfokus secara tekstual saja.

Demikian juga hadis tentang usus orang mukmin dan orang kafir.

الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ

“Orang mukmin itu makan dengan satu usus dan orang kafir makan dengan tujuh usus. (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad  bersumber dari Ibnu Umar).

Apakah hadis seperti ini juga harus ditolak dan divonis sebagai hadis lemah atau palsu, karena bertentangan al-Qur’an, akal, dan fakta. Susunan organ tubuh manusia seperti usus adalah sama, tidak mungkin berbeda antar satu dengan yang lain hanya karena perbedaan ideologi dan kepercayaan. Hadis ini menggunakan bahasa simbolik, yaitu usus orang mukmin hanya satu dan berbeda dengan orang kafir yang makan dengan tujuh usus. Perbedaan usus ini adalah bahasa simbolik yang mengandung arti perbedaan sikap dan pandangan terhadap nikmat Allah, termasuk ketika makan. Orang mukmin memandang bahwa makan bukanlah tujuan hidup. Berbeda dengan orang kafir terutama yang berpandangan Hedonisme dalam menyikapi kenikmatan duniawi, mereka menjadikan kenikmatan duniawi termasuk makan sebagai bagian dari tujuan hidupnya.

3. Latar belakang historis sosial, situasi dan kondisi ketika hadis itu diucapkan atau diperbuat serta tujuan diucapkannya.

Nabi SAW. diutus oleh Allah SWT. ke tengah-tengah umat dalam rangka membimibng mereka menuju ke jalan keselamatan dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Nabi SAW. berintraksi dengan umat dan membimibng mereka terutama ketika terjadi kasus. Kasus-kasus yang diperhadapkan kepada Nabi SAW. untuk dimintai solusinya inilah yang kemudian menjadi latar belakang lahirnya sebuah hadis. Dengan mengetahui latar belakang historis sosial seperti ini akan diperoleh informasi tentang adanya suatu hadis diucapkan atau dipraktekkan Nabi SAW. karena kondisi temporer, lokal, dan partikular secara khusus untuk mengatasi suatu problem yang muncul dan diperhadapkan kepadanya, atau dengan pertimbangan kemaslahatan yang ingin dicapai atau untuk mencegah mudarat sehingga dengan demikian tampak bersifat umum dan untuk waktu yang tidak terbatas.

Latar belakang situasi dan kondisi yang menyebabkan lahirnya suatu hadis serta tujuan diucapkannya sangat signifikan untuk diketahui guna memahami hadis itu secara akurat, sebagaimana halnya dalam upaya memahami al-Qur’an, harus pula mengetahui  asbabun nuzulnya (sebab-sebab yang melatarbelakangi turunnya ayat). Demikian pula halnya dengan asbabul wurud (sebab-sebab yang melatarbelakangi lahirnya sebuah hadis) harus diketahui guna dapat memahami makna dan maksud suatu hadis dengan baik dan benar.

Misalnya hadis Nabi SAW.

مَنْ كُنْتُ مَوْلاَهُ فَعَلِيٌّ مَوْلاَهُ

“Barangsiapa menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali sebagai pemimpinnya.” (HR Tirmidzi bersumber dari Zaid ibn Arqam atau Abu Sarihah, Ibnu Majah dari Sa’ad ibn Abi Waqqas, dan Ahmad dari Ali ibn Thalib).

Hadis ini sangat populer terutama di kalangan Syi`ah, sebab hadis inilah yang dijadikan sandaran dan pegangan, bahwa setelah Nabi SAW. wafat Ali-lah yang pantas dan layak menjadi pengganti dan penerusnya sebagai khalifah sebagaimana dipahami secara tekstual dari hadis di atas. Akan tetapi, kalau ditelusuri latar belakang historis sosial, kultural dan politisnya pada saat hadis tersebut diucapkan, maka akan jelas bahwa makna dan pesan utama hadis tersebut hanya dalam konteks lokal dan temporer pada waktu itu saja, bukan secara universal dan berlaku secara umum bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia sebagaimana paham orang-orang Syi`ah.

Pada tahun 10 H, Rasulullah SAW. beserta para sahabat berangkat menuju Mekah untuk melaksanakan ibadah haji yang kemudian terkenal sebagai haji Wada` (haji terakhir dan perpisahan). Bertepatan dengan ini, pasukan umat Islam yang telah dikirim ke Yaman, juga sudah meninggalkan Yaman, mereka menuju ke Mekah untuk bergabung dengan Rasulullah SAW. bersama rombongannya. Pasukan ini dipimpin oleh Ali ibn Abi Thalib. Begitu pasukan sudah mendekati tempat di mana Rasulullah SAW. berada, Ali ibn Abi Thalib segera meninggalkan pasukannya untuk bertemu dan melapor kepada Rasulullah SAW. dan sebagai wakil yang dipercayakannya memimpin dan mengendalikan pasukannya adalah Buraidah.

Begitu Ali ibn Abi Thalib meninggalkan pasukannya, Buraidah mengambil tindakan membagi-bagikan pakaian hasil rampasan perang yang masih tersimpan dalam tempatnya. Tindakan ini diambil dengan maksud agar pasukannya nanti jika masuk ke kota Mekah bertemu dengan Nabi SAW. dan yang lain kelihatan rapi dan bagus.

Akan tetapi, ketika Ali kembali ke rombongan pasukannya, beliau terkejut melihat pembagi-bagian harta rampasan perang itu. Ali marah dan memerintahkan agar semua pakaian yang telah dibagi-bagikan supaya dilepaskan dan dikembalikan ke tempatnya semula. Menurut Ali ibn Abi Thalib bahwa yang berhak membagi-bagikan adalah Rasulullah SAW. sendiri. Tindakan Ali menyita kembali pakaian-pakaian mereka, membuat anak buahnya kecewa dan menyesalkan sehingga terjadilah perbedaan pendapat di kalangan mereka.

Setelah pasukan sampai di tempat Rasulullah SAW., Buraidah segera menghadap kepada Rasulullah SAW. dan melaporkan semua kronologi kejadian yang dialami bersama pasukannya dan tindakan Ali menyita kembali pakaian-pakaian yang sudah dibagi-bagikan kepada mereka. Bahkan Buraidah, begitu kesalnya terhadap tindakan Ali itu, ia menjelek-jelekkan Ali di depan Rasulullah SAW.  Mendengar laporan ini, Rasulullah SAW. agak berubah raut wajahnya, karena beliau tahu bahwa tindakan Ali itu adalah benar. Menyikapi persoalan inilah, kemudian Rasulullah SAW. bersabda:

ياَ بُرَيْدَةُ اَلَسْتُ اَوْلَى بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ اَنْفُسِهِمْ

 “Hai Buraidah, apakah Aku tidak lebih utama untuk diikuti dan dicintai oleh orang-orang beriman dari pada diri mereka sendiri?” Buraidah menjawab:

 بَلَى, ياَ رَسُوْلَ اللهِ

 “Benar, ya Rasulullah.”

Kemudian Rasulullah SAW. bersabda:

مَنْ كُنْتُ مَوْلاَهُ فَعَلِيٌّ مَوْلاَهُ

“Barangsiapa menjadikan Aku sebagai pemimpinnya, maka Ali-lah yang jadi pemimpinnya.”

Oleh karena perbedaan dan perselisihan tersebut tidak hanya terjadi antara Ali dengan Buraidah saja, akan tetapi sudah merambah dan tersebar kepada seluruh anggota pasukannya sehingga di antara mereka ada yang menjelek-jelekkan Ali dengan kata-kata tidak etis, yang berakibat dapat mencemarkan nama baik Ali. Bahkan, perselisihan tersebut sudah sampai terdengar oleh orang-orang luar yang tidak ikut dalam pasukan ke Yaman. Menyikapi situasi dan kondisi seperti itu, maka Rasulullah SAW. seusai melaksanakan ibadah haji, beserta umat Islam sampai di suatu tempat yang bernama Ghadir Khum. Rasulullah SAW. segera memerintahkan umat Islam untuk berkumpul dan di situlah Rasulullah SAW. berkhutbah. Di antara isi khutbahnya, beliau mengulangi lagi kata-kata yang pernah disampaikan kepada Buraidah, yaitu مَنْ كُنْتُ مَوْلاَهُ فَعَلِيٌّ مَوْلاَهُ  (Barangsiapa yang menjadikan Aku sebagai pemimpinnya, maka Ali-lah pemimpinnya). Itulah sebabnya, hadis ini dikenal sebagai hadis Ghadir Khum karena disampaikan dan diulangi lagi pada saat di Ghadir Khum dan disaksikan oleh ribuan sahabat. Oleh karena itu pula, hadis ini dinilai oleh sebagian ulama sebagai hadis mutawatir dan masyhur, karena ribuan sahabat yang mendengarnya.

Dengan demikian, jelaslah bahwa kepemimpinan Ali ibn Abi Thalib yang dimaksudkan dalam hadis tersebut di atas adalah dalam konteks pemimpin pasukan yang dikirim ke Yaman oleh Rasulullah SAW. dan tidak relevan bahkan tidak ada hubungannya dengan penunjukkan Ali sebagai khalifah sesudah Rasulullah SAW. wafat.

Termasuk juga yang perlu dicermati dalam upaya memahami makna dan pesan dari suatu hadis adalah situasi dan kondisi sahabat, audiens atau masyarakat yang dihadapi Nabi SAW. ketika bersabda. Nabi SAW. sangat bijaksana sehingga dalam memberikan jawaban dan penjelasan berbeda-beda antara satu dengan yang lain pada satu masalah yang sama. Misalnya, Ahmad meriwayatkan yang bersumber dari Abdullah ibn Amr ibn Ash, katanya: “Ketika ia bersama Nabi SAW. ada seorang pemuda datang dan bertanya kepada Nabi, ya Rasul, bolehkah saya mencium isteri saya dalam keadaan puasa? Beliau menjawab: “لاَ” (tidak boleh). Tidak lama kemudian, datang lagi seorang tua dan bertanya dengan materi pertanyaan sama, ya Rasul, bolehkah saya mencium isteri saya dalam keadaan puasa? Beliau menjawab: “نَعَمْ” (boleh). Mendengar jawaban yang berbeda terhadap satu masalah yang sama, kedua orang itu (pemuda dan orang tua tadi) saling berpandangan satu sama lain dengan keheranan dan penasaran. Melihat itu, Rasulullah SAW. menjelaskan, aku memahami mengapa kalian saling memandang dengan heran, karena orang-orang yang sudah tua dapat menguasai nafsunya. (HR. Ahmad).

Rasulullah SAW. pernah ditanya oleh sekelompok orang, اي العمل افضل ؟ (amal apakah yang paling mulia?) Beliau menjawab: “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka bertanya lagi, kemudian apalagi? Beliau menjawab: “Berjihad di jalan Allah. Mereka bertanya lagi, apalagi ? Beliau menjawab: “Haji mabrur.” (HR. Bukhari dan Muslim bersumber dari Abu Hurairah).

Dalam kesempatan yang berbeda, beliau ditanya lagi oleh para sahabat dengan pertanyaan yang sama, اي العمل افضل ؟  (amal apakah yang paling mulia?) Beliau menjawab: “Shalat pada awal waktunya, kemudian apalagi? Beliau menjawab: “Berbuat baik kepada kedua orang tua. Kemudian apalagi? Beliau menjawab: “Berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari, Muslim, bersumber dari Abdullah ibn Mas’ud).

Nabi SAW. ditanya lagi oleh para sahabat, اي الإسلام افضل ؟ (amal apakah yang paling mulia dalam Islam?) Beliau menjawab: “Orang yang menyelamatkan terhadap sesamanya dari gangguan lidah dan tangannya.” (HR. Bukhari, Muslim, Nasai bersumber dari Abdullah ibn Amr).

            Para sahabat yang lain bertanya, amal apakah yang paling mulia? Beliau menjawab: “Mencintai dan membenci didasari karena Allah.” (HR. Abu Daud bersumber dari Abu Dzar). Sahabat lainnya bertanya, اي الإسلام خير ؟ (amal apakah yang terbaik dalam Islam?) Beliau menjawab: “Memberikan makanan dan menyebarkan salam, baik kepada orang yang dikenal maupun yang belum dikenal.” (HR. Bukhari bersumber dari Abdullah ibn Amr).

Para sahabat bertanya, اي الأعمال احب الى الله ؟ (amal apakah yang paling disenangi Allah?) Beliau menjawab: “Amal yang dikerjakan secara berkesinambungan walaupun sedikit.” (HR. Bukhari bersumber dari Aisyah).

Seorang sahabat Durrah binti Abu Lahab bertanya: “Siapakah yang paling utama? Beliau menjawab: “Orang yang paling bertakwa kepada Allah, orang yang paling menghubungkan silaturrahim, orang yang memerintahkan kepada kebaikan dan melarang kemungkaran.”

Pertanyaan yang secara substansial sama diajukan kepada Rasulullah SAW. dan beliau menjawabnya dengan jawaban yang berbeda-beda. Nabi SAW. bersabda dan berbuat didasari pertimbangan kondisi psikologis dan sosiologis terhadap umat atau masyarakat yang dihadapi.

Demikian juga, riwayat yang menyebutkan bahwa ketika Saad ibn Abi Waqqas tengah dalam keadaan sakit di Mekah, Nabi SAW. datang menjenguknya. Saad ibn Abi Waqqas berkata, aku mau wasiatkan semua hartaku. Nabi SAW. bersabda: “Jangan.” Saad berkata lagi, bagaimana kalau separuhnya?” Beliau bersabda lagi: “Jangan.” ٍSaad berkata lagi, bagaimana kalau sepertiganya?” Beliau bersabda:

الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ أَنْ تَدَعَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَدَعَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُوْنَ النَّاسَ فِي أَيْدِيهِمْ

“Sepertiga saja, sepertiga sudah banyak, engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik dari pada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin yang akan menjadi beban dan tanggungan orang lain.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasai, dan Ahmad dari Sa’ad ibn Abi Waqqas).

Mayoritas ulama memahami hadis tersebut sebagai dasar hukum bahwa tidak boleh mewasiatkan harta melebihi dari sepertiganya, tanpa memperhatikan dan mempertimbangkan latar belakang konteks historis sosial ekonomi dan psikologis ketika Nabi SAW. bersabda dan kepada siapa Nabi SAW. bersabda demikian.

Mengetahui latar belakang historis sosial, budaya, ekonomi, dan psikologi khususnya kondisi ekonomi sahabat Saad ibn Abi Waqqas sebagai orang yang disabdai Nabi SAW. adalah sangat penting karena hal itu akan sangat membantu dalam upaya memahami maksud dan pesan utama dari hadis tersebut di atas. Nabi SAW. bersabda demikian kepada Sa’ad ibn Abi Waqqas boleh saja disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang bersangkutan terutama kondisi perekonomian keluarganya. Dan Nabi SAW. tidak pernah menyabdakan hadis tersebut kecuali hanya kepada Saad ibn Abi Waqqas saja. Oleh karena itu, tidak ada sahabat lain yang meriwayatkan hadis tersebut, kecuali hanya Saad ibn Abi Waqqas saja.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa boleh jadi, jika ahli waris yang ditinggalkan adalah orang-orang kaya atau sudah berkecukupan atau tidak ada ahli waris yang diringgalkan sama sekali, maka wasiat mengenai harta yang ditinggalkan itu melebihi dari sepertiganya adalah boleh saja. Namun, pendapat seperti ini hampir tidak dikenal di kalangan ahli hukum (fukaha), kecuali pendapat Ibnu Hazm saja dalam kitab al-Muhalla yang didasarkan sumbernya dari Ibnu Mas`ud, Ubaidah as-Salmani, dan sekelompok ulama. Dan ini dinilai pendapat yang syadz (ganjil). Mayoritas ulama berpegang pada tekstual hadis tersebut bahwa batas maksimal harta warisan yang diwasiatkan hanya 1/3 dari jumlahnya yang ditinggalkan.

Prinsip-Prinsip Kontekstualitas

Seringkali pesan, doktrin, atau legitimasi dari sebuah hadis dipahami dengan melepaskan dari konteks dan historis sosialnya. Islam datang dengan salah satu sumber utamanya hadis itu sendiri umumnya adalah sebagai respon terhadap realitas dan dinamika sosial. Teks sebuah hadis yang dilepaskan dan tercabut dari konteks dan historis sosialnya justru akan melahirkan makna yang kabur dan sempit serta menyulitkan dalam aplikasinya terutama dalam dunia yang transformatif terus berubah dan berkembang. Konteks itulah yang sangat memberikan kontribusi sehingga melahirkan muatan makna yang bisa lebih akurat dan valid. Dengan dasar pemikiran seperti inilah yang menjadi motivasi untuk mencoba mengkaji beberapa teks hadis dengan mempertimbangkan pada konteks historis sosialnya.

Pemahaman hadis dengan mempertimbangkan konteks dan historis sosialnya bukanlah metode baru, sebab sejak zaman Nabi SAW. masih hidup, sudah ada para sahabat memahami hadis Nabi secara kontekstual, namun ada juga yang cara pemahamannya dengan metode tekstual. Ketika para sahabat kembali dari medan perang dan ingin berangkat ke perkampungan Bani Quraizhah, Nabi SAW. berpesan kepada mereka:

لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلاَّ فِي بَنِي قُرَيْظَةَ

Janganlah di antara kalian shalat ashar, kecuali di perkampungan Bani Quraizhah”. (HR.Bukhari dari Ibnu Umar).

Di tengah perjalanan waktu ashar tiba, sebagian sahabat memahami hadis tersebut secara tekstual sehingga mereka tidak melakukan shalat, kecuali setelah sampai di perkampungan Bani Quraizhah. Mereka tiba di sana setelah matahari terbenam dan waktu ashar sudah habis. Jadi, mereka melakukan shalat ashar ketika matahari sudah terbenam. Sementara sebagian sahabat lainnya memahami pesan hadis tersebut secara kontekstual. Mereka memahami makna dan pesan hadis itu berdasar pada konteks dan tujuannya, yaitu sebagai perintah untuk bergegas dan cepat dalam perjalanan agar dapat tiba di perkampungan Bani Quraizhah ketika waktu ashar masih ada. Mereka boleh shalat ashar walaupun belum sampai di perkampungan Bani Quraizhah. Nabi SAW. bersabda demikian, agar para sahabat itu dapat memanfaatkan waktu dengan baik dan seefektif mungkin, tidak santai karena jarak ke perkampungan Bani Quraizhah cukup jauh.

Berdasar dari hadis dan praktek para sahabat dalam memahami hadis tersebut dikenallah secara global dalam memahami hadis dua metode, yaitu metode tekstual dan metode kontesktual. Tidak semua hadis dapat dipahami secara tekstual dan begitu juga sebaliknya, pendekatan secara kontekstual tidak dapat diberlakukan terhadap semua hadis. Metode tekstual ditempuh jika hadis yang bersangkutan, setelah dihubungkan dengan berbagai aspek yang berkaitan dengannya, misalnya latar belakang lahirnya hadis itu (asbab al-wurud)-nya, dan aspek-aspek lainnya, namun tetap menuntut pemahaman sesuai dengan apa yang tertulis dalam teks hadis itu. Demikian juga metode kontekstual ditempuh jika di balik teks suatu hadis ada indikasi yang kuat yang mengharuskan hadis itu dipahami tidak seperti yang tertulis. Menelusuri dan menetapkan indikasi yang menunjuk pada arah tekstual dan kontekstual bukanlah suatu hal mudah, tetapi memerlukan kecermatan dan ketelitian serta modal wawasan yang luas dan dalam.

Sebagai dasar-dasar metodologis dalam upaya memahami hadis Nabi SAW. secara kontekstual ada beberapa prinsip mendasar yang selayaknya diperhatikan, antara lain:

1.  Prinsip ideologi terbuka

Maksudnya, bahwa agama Islam ini salah satu sumber ajarannya adalah hadis Nabi SAW. itu sendiri adalah mengandung ajaran yang sifatnya terbuka. Hal ini dipahami dari pesan hadis Nabi SAW.

إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ اْلأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

“Sesungguhnya Allah akan mengutus kepada umat ini pada penghujung setiap100 tahun orang yang memperbarui agamanya”. (HR. Abu Daud, Hakim, dan Baihaqi bersumber dari Abu Hurairah).

Terbukanya pintu untuk kehadiran seorang mujaddid (reformis/pembaru) di tengah-tengah komunitas umat Islam menunjukkan bahwa ajaran Islam sifatnya terbuka. Namun, bukan dalam arti terbuka untuk menambah prinsip-prinsip ajaran agama yang sudah sempurna, tetapi yang dimaksudkan adalah memperbarui dalam hal metode dan pemahaman serta pengamalan terhadap ajaran Islam.

2. Prinsip otentisitas dan kualitas

Menggali dan memegang pesan dan ajaran dari suatu hadis setelah diyakini dengan sebenarnya bahwa hadis itu otentik berasal dari Rasulullah SAW. Seringkali didapati di berbagai forum dan tempat kita mendengar atau membaca adanya orang mengkontekstualisasi sebuah hadis, padahal ternyata itu bukan hadis, tidak bersumber dari Rasulullah SAW. Paling tidak hanyalah sebuah riwayat yang disandarkan kepada Nabi yang kualitasnya daif. Misalnya:

إِخْتِلاَفُ أُمَّتِيْ رَحْمَةٌ

Perbedaan pendapat di kalangan umatku adalah rahmat”.

Riwayat ini tidak ada sumbernya dari kitab-kitab hadis. Para ulama hadis telah berupaya menelusuri dan meneliti sanad hadis ini, ternyata mereka tidak menemukannya, sehingga Al-Manawi (1031 H) mengatakan bahwa hadis ini tidak dikenal di kalangan ahli hadis. Kata Ibnu Hazmi: “Hadis ini batil dan dusta.”

َالدِّيْنُ هُوَ الْعَقْلُ وَمَنْ لاَ دِيْنَ لَهُ لاَ عَقْلَ لَهُ

Agama itu adalah akal. Dan barangsiapa tidak beragama berarti tidak mempunyai akal.”

Imam an-Nasai (303 H/915 M) mengatakan hadis ini batil dan munkar. Al-Haris ibn Abu Usamah meriwayatkan dalam Musnadnya diterima dari Daud ibn al-Muhabbir, bahwa lebih dari 30 hadis yang menceritakan tentang keutamaan akal. Menurut Ibnu Hajar al-‘Asqalani (852 H/1447 M), semua (30) hadis tersebut adalah maudhu’ atau palsu. Termasuk di antaranya adalah hadis tersebut.

حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الإِيْمَانِ

Cinta tanah air sebagian dari iman.”

Riwayat ini tidak ada sumbernya dari kitab-kitab hadis dan ia adalah hadis maudhu’ (palsu) sebagaimana dikatakan As-Shaghani.

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”

Riwayat ini juga bukan hadis sebagaimana dinyatakan As-Sakhawi. Syaikh al-Qari dalam Maudhuat-nya diterima dari Ibnu Taimiyah mengatakan: “Hadis ini palsu.”

إِعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَدًا وَاعْمَلْ لآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا

“Beramallah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya. Dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati besok.”

Albani menilai riwayat ini juga bukan hadis Nabi. Ibnu Mubarak meriwayatkannya bersumber dari Abdullah ibn Amru ibn Ash bahwa hadis ini mauquf, dan ternyata juga munqathi’ (terputus sanadnya). Ini berarti dhaif. Baihaqi meriwayatkan secara marfu’ dengan menggunakan lafal yang cukup panjang dan pada bagian akhirnya ia menyebutkan: “Bekerjalah sebagaimana orang-orang yang bekerja dan menyangka akan hidup selamanya. Dan berhati-hatilah sebagaimana hati-hatinya orang yang menyangka besok ia akan mati.”  Hadis ini pun kualitasnya dhaif, sebab terdapat dua periwayatnya; Maula Umar ibn Abdul Aziz dan Abu Shalih adalah majhul.

Kelima riwayat tersebut di atas sebagai hadis palsu, selengkapnya dapat dilihat dalam buku, Silsilah al-Ahâdits al-Dha’îfah wa al-Maudhû’ah wa Atsaruhâ as-Sayyi’ fi al-Ummah (Silsilah Hadis-Hadis Lemah dan Palsu dan Dampak Negatifnya Terhadap Umat) karya Syekh Nashiruddin Albani, masing-masing pada hadis no. 57, 1, 36, 66, dan no. 8.

Penghimpunan hadis sejak wafatnya Rasulullah SAW. hingga masa kodifikasi (pembukuan) hadis telah melalui proses perjalanan waktu yang cukup lama dan panjang. Bahkan dalam proses perjalanannya yang panjang itu diwarnai oleh adanya gerakan pemalsuan hadis. Misalnya, Abdul Karim ibn Abil Auja`, seorang pemalsu hadis mengaku telah membuat hadis palsu sebanyak 4.000 hadis. Ini suatu jumlah yang sangat besar, sama dengan jumlah hadis yang termuat dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, yaitu masing-masing 4.000 hadis selain hadis yang terulang. Suatu hadis dapat dinyatakan otentik berasal dari Rasulullah SAW. jika didukung oleh serangkaian sanad. Membuktikan keotentikan suatu hadis dapat ditempuh minimal dengan tiga cara:

a.  Menelusuri dan meneliti serta menetapkan kualitas sanad suatu hadis adalah berdasarkan pada kaidah dan dasar-dasar ilmu hadis; apakah sahih, hasan, dhaif, atau maudhu’ (palsu).

b.  Berpedoman kepada kitab-kitab hadis yang menghimpun khusus hadis-hadis sahih, seperti kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim serta kitab-kitab hadis yang sudah diakui kualitasnya oleh para ulama hadis, seperti al-kutub as-Sittah, al-kutub at-Tis’ah, misalnya Sunan Abu Daud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan Ibn Majah, Sunan an-Nasai, Musnad Ahmad, Muwaththa’, dan kitab-kitab hadis lainnya.

c.  Berpedoman pada informasi dari para ulama kritikus hadis, seperti imam Ibnu Abu Hatim Ar-Razi (328 H/940 M), Al-Dzahabi (748 H/1348 M), An-Nawawi (676 H/1277 M), Al-Asqalani (852 H/1447 M), dan lainnya.

3.  Prinsip klasifikasi

Memahami situasi dan kondisi sosio-kultural yang melingkupi seluruh proses perjalanan kehidupan Nabi SAW. merupakan suatu keharusan dan tuntutan yang sangat urgen dan signifikan dalam rangka memahami hadis Nabi SAW. secara akurat dan valid, karena seluruh hasil dari proses perjalanan kehidupannya yang terkoleksi dalam bentuk ucapan, perbuatan, takrir, serta sifat-sifat perilaku keseharian adalah hadis. Ketika mengucapkan atau melakukan suatu perbuatan tidak terlepas dari kepribadian dan keberadaan serta kapasitasnya sebagai Nabi dan Rasulullah SAW. Demikian juga dalam kapasitasnya sebagai pribadi manusia biasa yang melakukan suatu tindakan dan perbuatan secara spontanitas, didorong oleh tuntutan naluri manusiawi, tradisi, kebiasaan, pengalaman, dan lain-lain. Selain Allah SWT. menegaskan bahwa kerasulan Muhammad SAW. tidak menghapus kepribadiannya sebagai manusia dalam QS. Al-Kahfi/18: 110.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku”.

Rasulullah SAW. sendiri juga bersabda:

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَرْضَى كَمَا يَرْضَى الْبَشَرُ وَأَغْضَبُ كَمَا يَغْضَبُ الْبَشَرُ

Bahwa aku adalah manusia biasa, dapat merasa gembira seperti manusia biasa lainnya, dan dapat juga marah seperti manusia biasa”. (HR. Muslim dari Ummu Sulaim).

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ دِينِكُمْ فَخُذُوا بِهِ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ رَأْيٍ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ  

 “Aku hanyalah seorang manusia. Maka jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian tentang masalah agama kalian, maka ikutilah. Dan jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian berdasarkan pendapatku, maka Aku hanyalah seorang manusia.”  (HR. Muslim bersumber dari Rafi’ ibn Khadij).

Sementara dalam kenyataan sejarah juga menunjukkan bahwa ucapan dan perbuatan beliau juga terkait dalam kapasitasnya sebagai kepala negara, pemimpin politik atau panglima perang, atau sebagai hakim.

Dengan demikian, keberadaan Nabi SAW. sebagai sumber hadis dapat diklasifikasi dalam perannya sebagai Nabi dan Rasul, pemimpin politik, panglima perang, hakim, atau sebagai pribadi. Uraian mengenai klasifikasi tersebut beserta contohnya masing-masing dapat dilihat nanti pada pembahasan metodologi memahami hadis dalam konteks historis sosialnya.

4.  Prinsip indikasi

Sebagaimana telah diketahui bahwa tidak semua hadis dapat dipahami secara tekstual dan begitu juga sebaliknya, pendekatan secara kontekstual tidak dapat diberlakukan terhadap semua hadis. Indikasi atau qarinah itulah yang memberikan petunjuk ke arah pemahaman secara kontekstual dan inilah sebetulnya yang menentukan. Kalau indikasinya mengarah pada pemahaman secara tekstual lebih kuat, maka harus dipahami secara tekstual. Akan tetapi, kalau justru indikasinya lebih kuat untuk dipahami secara kontekstual, maka metode pemahaman seperti itulah yang seharusnya dipilih dan menjadi pegangan. Oleh karena itu, kemampuan menangkap dan memahami indikasi atau qarinah yang lebih kuat yang membolehkan dan mengharuskan hadis bersangkutan dipahami secara kontekstual adalah suatu hal yang sangat signifikan dan menentukan.[2]


[1] Sabda dan perbuatan yang dilakukan oleh Nabi SAW. adakalanya dalam kapasitasnya sebagai Rasul, pribadi, manusia biasa sebagai orang Arab, pemimpin politik, hakim, panglima perang,. Konsekwensi dari pengklasifikasian seperti ini melahirkan adanya sunnah yang berdimensi syariat dan sunnah yang tidak berdimensi syariat, dan ini masih diperdebatkan di kalangan ulama. Al-Qardhawi membahas hal ini cukup panjang dalam bukunya As-Sunnah Mashdaran Li al-Ma`rifah wa al-Hadharah Diterjemahkan oleh Abdul Hayyie Al-Kattanie, Sunnah Rasul Sumber Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, Jakarta: Gema Insani Press, 1998, hal. 33-141.

[2] Lihat dan bandingkan dengan apa yang dikemukakan Hamim Ilyas, Kontekstualisasi Hadis dalam Studi Agama, dalam “Wacana Studi Hadis Kontemporer”, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002, h. 180-184.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s